Diabetes: Ancaman Tersembunyi

  • 24 Feb 2026 08:22 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, GUNUNGSITOLI - Diabetes kerap dipandang sederhana sebagai penyakit karena terlalu banyak mengonsumsi gula. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Penyakit ini berakar pada gangguan sistem metabolisme tubuh, khususnya pada peran hormon insulin yang bertugas membantu gula darah masuk ke dalam sel sebagai sumber energi. Ketika insulin tidak diproduksi dengan cukup atau tubuh tidak meresponsnya dengan baik, gula akan menumpuk dalam aliran darah. Penumpukan inilah yang perlahan-lahan membuka pintu bagi berbagai gangguan kesehatan yang sering kali tidak disadari sejak awal.

Yang membuat diabetes berbahaya adalah sifatnya yang kerap datang tanpa gejala mencolok. Banyak orang merasa dirinya baik-baik saja, padahal kadar gula darahnya sudah berada di atas batas normal. Rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, mudah lelah, atau luka yang lama sembuh sering dianggap keluhan biasa. Tanpa pemeriksaan rutin, kondisi ini dapat berlangsung bertahun-tahun hingga akhirnya komplikasi muncul. Karena itu, diabetes sering dijuluki sebagai “silent disease” yang bekerja diam-diam merusak tubuh.

Dampak diabetes tidak hanya berhenti pada tingginya angka gula darah. Penyakit ini dapat memengaruhi pembuluh darah, saraf, mata, ginjal, hingga jantung. Kadar gula yang terus-menerus tinggi dapat merusak dinding pembuluh darah dan mengganggu aliran oksigen serta nutrisi ke berbagai organ. Dalam jangka panjang, risiko penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan, bahkan amputasi bisa meningkat. Inilah alasan mengapa pengelolaan diabetes harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Menurut Michael Brownlee, salah satu peneliti terkemuka dalam bidang komplikasi diabetes, kerusakan yang terjadi pada penderita diabetes banyak dipicu oleh stres oksidatif akibat kadar gula darah yang tinggi secara kronis. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut memicu reaksi biokimia yang merusak sel dan jaringan tubuh secara perlahan. Pandangan ini menegaskan bahwa pengendalian gula darah bukan sekadar menurunkannya sesaat, melainkan menjaga kestabilannya setiap hari melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kepatuhan terhadap terapi medis.

Kesadaran dan edukasi menjadi langkah awal yang sangat penting dalam menghadapi diabetes. Pemeriksaan gula darah secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga atau faktor risiko seperti obesitas dan kurang aktivitas fisik, dapat membantu deteksi dini. Selain itu, membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia muda terbukti efektif menurunkan risiko. Diabetes bukanlah vonis akhir, tetapi peringatan agar seseorang lebih bijak dalam menjaga tubuhnya. Dengan pemahaman yang benar, penyakit ini dapat dikendalikan sehingga penderitanya tetap dapat menjalani hidup yang produktif dan berkualitas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....