Asal Mula Permainan Tradisional Engklek

  • 29 Agt 2026 14:21 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID,Gunungsitoli - Asal mula permainan engklek belum diketahui secara pasti namun para ahli sejarah menduga kuat bahwa permainan tradisional ini dibawa oleh bangsa Belanda ke Nusantara pada masa kolonial. Nama "engklek" sendiri diambil dari bahasa Jawa yang berarti melompat-lompat dengan satu kaki seperti dirilis theasianparent.com.

Dugaan paling populer menyebutkan permainan ini diadaptasi dari bahasa Belanda, yaitu Zondag-Maandag yang berarti Minggu-Senin. Di Belanda, permainan melompati kotak-kotak ini juga dikenal dengan nama hinkelbaan. Pada masa penjajahan, permainan ini sering dimainkan oleh anak-anak perempuan Belanda dan kemudian ditiru oleh anak-anak pribumi dan oleh masyarakat lokal diserap menjadi "Sunda Manda" atau dikenal dengan nama engklek atau berbagai nama di berbagai daerah Nusantara sebagaimana dilansir disikpora.go.id.

Permainan yang sejenis dengan engklek di Inggris disebut dengan hopscotch. Catatan tertulis mengenai permainan serupa bernama hopscotch pertama kali ditemukan dalam buku berjudul Buku Permainan karya Francis Willughby pada tahun 1635. Kata "scotch" berasal dari scratch yang artinya menggores.

Berdasarkan catatan sejarah, hopscotch diperkirakan merupakan permainan yang sangat tua dan sudah dimainkan sejak zaman Kekaisaran Romawi kuno. Awalnya, permainan ini digunakan oleh tentara Romawi untuk melatih kecepatan, keseimbangan dan kekuatan kaki di jalur lapangan yang panjang. Pendapat lain dikemukakan oleh seorang sosiolog dan penjelajah Belanda Dr. Snouck Hurgronje beliau menyatakan bahwa permainan engklek sebenarnya berasal dari Hindustan (India) yang kemudian dibawa dan diperkenalkan ke wilayah Indonesia sebagaimana rilis laman kemenporaindonesia.com.

Permainan engklek bukan asli dari Indonesia, melainkan berasal dari tradisi kuno di luar negeri yang mirip dengan permainan hopscotch di Inggris atau Romawi Kuno seperti dirilis kemenporaindonesia.com.

Karena sudah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara selama ratusan tahun, permainan ini memiliki nama lokal yang sangat beragam:

Bali

Jakarta (Betawi)

Jawa

Kalimantan

Nusa Tenggara Timur (NTT)

Riau

Sumatera (Umum)

Sumatera Utara (Batak Toba)

Sulawesi Utara (Kotamobagu)

Sulawesi Tenggara (Muna)

Teklek atau teprok

Dampu Bulan

Engklek, Taplak Gunung, Sudamanda

Gala asin atau intingan

Siki Doka

Setatak

Timbang atau asinan

Marsitekka

Supel

Kabula

Secara filosofis, kotak-kotak engklek yang digambar di tanah melambangkan perjuangan manusia untuk membangun rumah atau meraih wilayah kekuasaan. Istilah "taplak gunung" atau "sawah" dalam engklek menggambarkan kepemilikan petak tanah. Untuk memenangkan wilayah (memiliki "bintang" atau "rumah" di kotak tertentu), pemain tidak boleh asal menyerobot, melainkan harus taat pada aturan yang disepakati bersama seperti dilansir laman disdikpora.go.id

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....