Lari Pakai Sandal, Benarkah Lebih Sehat untuk Kaki?
- 26 Agt 2026 08:49 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Sepatu lari dengan bantalan tebal bukan satu-satunya pilihan untuk berolahraga. Sebagian pelari justru memilih alas kaki yang lebih sederhana, seperti sandal tipis atau sandal jepit.
Selain terasa ringan, penggunaan sandal saat berlari dianggap memberi ruang lebih bebas bagi kaki untuk bergerak. Namun, alas kaki yang minim perlindungan juga membuat kaki dan otot tungkai bekerja dengan cara yang berbeda.
Penelitian yang diterbitkan dalam BMC Sports Science, Medicine and Rehabilitation pada Juli 2026 secara khusus membandingkan lari tanpa alas kaki, menggunakan sandal jepit konvensional, sandal model Y dan sepatu. Penelitian tersebut melibatkan 16 orang yang berlari di treadmill dengan tiga kecepatan berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola gerak dan aktivitas otot berdasarkan alas kaki yang digunakan. Penggunaan sandal jepit konvensional maupun sandal model Y menghasilkan aktivitas sejumlah otot tungkai bawah yang lebih tinggi dibandingkan lari tanpa alas kaki dan menggunakan sepatu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa alas kaki yang lebih ringan tidak selalu membuat kaki bekerja lebih ringan.
Sandal jepit membuat kaki melakukan penyesuaian
Sandal jepit memiliki karakteristik yang berbeda dari sepatu. Alas kaki ini tidak membungkus kaki dan hanya dipertahankan oleh tali di bagian depan. Kondisi tersebut membuat kaki perlu melakukan penyesuaian agar sandal tetap mengikuti gerakan. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Foot and Ankle Research menemukan adanya jarak antara kaki dan sandal ketika seseorang berjalan menggunakan sandal jepit.
Dalam penelitian terhadap 15 orang dewasa, jarak maksimum antara kaki dan sandal rata-rata mencapai 8,8 sentimeter. Penggunaan sandal jepit juga menyebabkan perubahan pada gerakan lutut dan pergelangan kaki. Peneliti menyebut jarak sandal yang lebih rendah dari permukaan tanah dapat meningkatkan potensi tersandung pada permukaan yang tidak rata.
Walaupun penelitian tersebut dilakukan pada aktivitas berjalan, hasilnya memperlihatkan bahwa desain sandal dapat memengaruhi pola gerak tubuh. Saat berlari, gerakan yang terjadi lebih cepat dan berulang sehingga tuntutan terhadap kaki juga berbeda.
Beban tidak hilang, tetapi berubah
Minimnya bantalan pada sandal bukan berarti beban yang diterima tubuh menjadi lebih kecil. Tinjauan sistematis mengenai biomekanika alas kaki menunjukkan bahwa lari dengan alas kaki minimalis dapat mengubah distribusi beban pada tungkai. Beban pada lutut dapat berkurang dalam kondisi tertentu, tetapi tuntutan pada pergelangan kaki dan bagian depan kaki dapat meningkat.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Sports Science and Medicine juga menunjukkan bahwa karakteristik sol alas kaki memengaruhi gaya dan beban yang diterima tubuh saat berlari. Karena itu, perubahan dari sepatu ke sandal bukan sekadar mengganti alas kaki. Tubuh juga harus menyesuaikan diri dengan pola pembebanan yang berbeda.
Tidak otomatis lebih sehat
Hingga saat ini, penelitian belum memberikan bukti kuat bahwa alas kaki minimalis atau lari tanpa alas kaki secara umum lebih sehat dan lebih aman daripada sepatu konvensional. Sebuah systematic review yang diterbitkan di Sports Medicine menelaah penelitian mengenai kebiasaan berjalan dan berlari tanpa alas kaki. Hasilnya menunjukkan bahwa bukti mengenai manfaat kesehatan jangka panjang masih terbatas dan belum cukup untuk menyatakan bahwa kondisi tanpa alas kaki memberikan risiko cedera yang lebih rendah. Artinya, tidak tepat jika sandal dianggap otomatis lebih baik hanya karena memberikan sensasi lebih ringan dan bebas.
Perlu adaptasi
Pelari yang terbiasa menggunakan sepatu sebaiknya tidak langsung mengganti seluruh latihan dengan sandal. Perubahan mendadak dapat meningkatkan tuntutan pada otot kaki, betis, pergelangan kaki dan jaringan di sekitarnya.
Tinjauan mengenai proses transisi ke alas kaki minimalis menunjukkan pentingnya perubahan secara bertahap. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan mekanika dan beban latihan. Jarak pendek dengan intensitas rendah dapat menjadi tahap awal bagi orang yang ingin mencoba. Penambahan jarak dan kecepatan sebaiknya dilakukan setelah tubuh terbiasa.
Permukaan lari juga perlu diperhatikan. Sandal jepit yang mudah bergeser lebih berisiko digunakan pada permukaan tidak rata, licin atau banyak hambatan.
Pada akhirnya, sandal bukan pilihan yang secara otomatis lebih sehat maupun lebih buruk. Dampaknya bergantung pada desain alas kaki, kondisi fisik pelari, permukaan yang digunakan dan kemampuan tubuh beradaptasi. Lari menggunakan sandal dapat dilakukan, tetapi bukan berarti semakin minim alas kaki semakin sehat. Yang terpenting adalah menyesuaikan alas kaki dengan kebutuhan latihan dan memberikan waktu yang cukup bagi tubuh untuk beradaptasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....