Asal Usul Permainan Congklak
- 24 Agt 2026 17:06 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID,Gunungsitoli - Permainan congklak diperkirakan berasal dari kebudayaan kuno Timur Tengah dan telah ada sejak tahun 7000 hingga 5000 SM. Permainan ini menyebar ke benua Afrika kemudian menyebar ke Asia dan Nusantara melalui jalur perdagangan bangsa Arab. Menyebar luas di kawasan Melayu serta berbagai daerah di Indonesia.
Masuk ke Indonesia diperkirakan sejak abad ke-17. Pada masa lampau, lebih populer dimainkan oleh anak perempuan dari kalangan istana atau bangsawan. Seiring berjalannya waktu, permainan ini menyebar luas dan menjadi warisan budaya yang digemari masyarakat luas.
Para arkeolog meyakini bahwa interaksi budaya antara pedagang Timur Tengah dan masyarakat lokal menjadi gerbang utama masuknya congklak ke Nusantara sebagaimana dirilis laman disdikpora.go.id
Di daerah Panjunan, ditemukan artefak berupa bidak congklak terakota buatan tanah liat dari masa lampau yang kini disimpan di Museum Nasional.
Meskipun cara bermainnya mirip, congklak dikenal dengan nama yang berbeda di setiap daerah:
Jawa: Disebut Dakon atau Dakonan.
Sumatera: Umumnya tetap disebut Congklak atau Congkak.
Lampung: Dikenal dengan istilah Dentuman Lamban.
Sulawesi: Disebut dengan nama Maggaleceng.
Bahasa Inggris: Secara internasional, permainan sejenis ini masuk dalam keluarga Mancala, atau sering disebut Count and Capture. Dilansir laman expat.or.id
Congklak bukan sekadar hiburan kosong, melainkan sarana edukasi yang sarat makna:
Mengajarkan bahwa rezeki yang kita miliki harus dibagikan secara adil (satu per satu) ke tempat lain, melambangkan pentingnya sedekah dan menabung.
Melatih pemain untuk berpikir kritis, mengatur strategi dan memprediksi langkah ke depan agar biji tidak berhenti di lubang yang kosong.
Dimainkan secara bergantian dengan meletakkan biji satu per satu, permainan ini sangat menguji kejujuran dan sportivitas setiap pemain.
Mengajarkan strategi, ketelitian, dan kemampuan berhitung.
Proses memindahkan biji menyimbolkan bahwa setiap tindakan hari ini berdampak pada masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....