Apa Itu Social Anxiety Disorder atau Fobia Sosial dan Apa Saja Gejalanya

  • 07 Okt 2026 15:16 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Dilansir dari Alodokter, Situasi sosial seperti halnya saat bertemu orang baru, akan mengisi pidato di depan banyak orang, akan menjalani interview, atau kondisi serupa, tentunya akan memberikan kita perasaan cemas. Itu adalah respons alami tubuh terhadap kondisi sosial yang jarang atau belum pernah kita rasakan. Namun, ada sebuah gangguan kesehatan mental yang disebut sebagai gangguan kecemasan sosial atau social anxiety disorder.

Berbeda dengan kecemasan biasa yang merupakan respons alami tubuh, tipe kecemasan ini bisa terbilang sebagai kecemasan sosial berlebihan. Jadi, si penderita akan mengalami situasi di mana merasa ketakutan berlebih saat berada di situasi sosial. Yuk cari tahu lebih banyak seputar kondisi ini termasuk gejala dan juga penanganannya.

Apa Itu Social Anxiety Disorder?

Social anxiety disorder atau gangguan kecemasan sosial adalah kondisi gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan adanya kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, dan ketegangan berlebih saat berada di situasi sosial. Kondisi ini juga sering disebut sebagai fobia sosial (social phobia).

Biasanya, penderita kondisi ini merasa bahwa dirinya tidak dapat tampil dengan baik di hadapan publik dengan ketakutan berlebih. Ia juga biasanya berpikiran negatif seperti dihakimi, diperhatikan, dan juga dinilai negatif oleh orang lain.

Oleh sebab itu, penderita anxiety disorder selalu menghindari hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas sosial. Mereka tidak dapat mengendalikan kekhawatiran maupun kecemasan tersebut.

Gangguan kecemasan sosial berbeda dengan sifat pemalu. Pada orang pemalu, mereka masih bisa berinteraksi secara sosial tanpa adanya kekhawatiran akan dinilai negatif oleh orang lain.

Sejatinya, penderita gangguan psikologi ini tahu bahwa mereka mengidap kecemasan, tapi mereka tidak dapat mengendalikannya. Bahkan tak jarang, mereka juga mengidap gangguan psikologi lain seperti depresi, gangguan makan, PTSD, hingga penyalahgunaan obat-obatan.

Walau demikian, kondisi ini tidak dapat disebut sebagai ansos atau anti sosial dan bukan pula introver. Hal ini karena bagi mereka, interaksi sosial menimbulkan suatu ancaman secara mental, beda dengan ansos yang sering kali menyimpang dari normal sosial maupun introver yang memang mereka lebih memilih menghindari aktivitas sosial dan tidak menjadikannya ancaman serius.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....