Siapa yang tersingkir di era AI

  • 30 Sep 2026 08:35 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID,Gunungsitoli - Ketika ChatGPT diluncurkan pada akhir 2022, banyak orang menganggap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) hanya akan menjadi alat bantu kerja tambahan. Namun dalam waktu yang relatif singkat, AI berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan. Teknologi ini kini mampu menulis laporan, membuat presentasi, menerjemahkan dokumen, menghasilkan desain visual, menganalisis data, hingga membantu menulis kode pemrograman. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Perkembangan tersebut juga terlihat di Indonesia. Survei PwC tahun 2025 menunjukkan bahwa 69 persen responden di Indonesia telah menggunakan AI setidaknya sekali dalam setahun terakhir, sementara 16 persen menggunakannya setiap hari. Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Temuan ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan teknologi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan dan dunia kerja saat ini.

Dilansir dari osc.medcom.id, masuknya AI ke berbagai sektor memunculkan kekhawatiran baru mengenai masa depan pekerjaan manusia. Kekhawatiran tersebut sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah ekonomi. Ekonom Austria Joseph Schumpeter telah menjelaskan fenomena serupa melalui konsep Creative Destruction, yaitu proses ketika inovasi baru menggantikan sistem lama dan mengubah struktur ekonomi yang sudah ada. Revolusi Industri menggantikan banyak pekerjaan manual dengan mesin, internet mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan berbelanja, sementara AI menjadi gelombang transformasi berikutnya.

Tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini bukanlah AI itu sendiri, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan. World Economic Forum memperkirakan hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja akan berubah sebelum tahun 2030. Selain itu, 63 persen perusahaan menganggap kesenjangan keterampilan sebagai hambatan utama dalam proses transformasi bisnis mereka.

Kondisi ini menjadi perhatian penting mengingat tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan pendidikan menengah ke bawah. Sementara itu, banyak pekerjaan baru yang muncul akibat transformasi digital membutuhkan kemampuan analisis data, literasi digital, pemecahan masalah, serta kemampuan memanfaatkan teknologi secara efektif. Jika proses peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) tidak berjalan cukup cepat, kesenjangan antara kebutuhan industri dan kemampuan tenaga kerja berpotensi semakin melebar.

Pekerjaan yang paling rentan terhadap otomatisasi juga tidak selalu berasal dari kelompok berpendidikan rendah. Banyak pekerjaan administrasi, entri data, layanan pelanggan dasar, hingga pembuatan konten rutin mulai dapat dikerjakan oleh AI dengan lebih cepat dan biaya yang lebih rendah. Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas tinggi, kemampuan bernegosiasi, kepemimpinan, empati, serta pengambilan keputusan yang kompleks masih relatif sulit digantikan oleh teknologi.

Karena itu, ancaman terbesar AI bagi Indonesia mungkin bukan hilangnya pekerjaan secara massal, melainkan munculnya kesenjangan baru antara pekerja yang mampu memanfaatkan AI dan mereka yang tertinggal oleh perubahan teknologi.

Pada akhirnya, Creative Destruction yang dibawa AI bukan hanya tentang pekerjaan yang hilang atau pekerjaan yang tercipta. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat merespons perubahan tersebut. Dalam proses transformasi ini, yang tersingkir bukan selalu profesi tertentu, melainkan mereka yang gagal beradaptasi ketika dunia kerja berubah. Oleh karena itu, pertanyaan yang paling relevan saat ini bukanlah apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan apakah manusia mampu belajar dan beradaptasi lebih cepat daripada perkembangan teknologi itu sendiri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....