Karakter Orang yang Suka Membandingkan Orang Lain
- 09 Agt 2026 23:01 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Karakter orang yang suka membandingkan orang lain sering kali tampak dari cara mereka menilai orang di sekitarnya. Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele jika terjadi sesekali. Namun, jika terus dilakukan, dampaknya dapat memengaruhi hubungan sosial maupun kondisi emosional orang yang menjadi sasaran perbandingan.
Menurut Psychology Today, kecenderungan membandingkan merupakan hal yang wajar. Melalui Social Comparison Theory yang diperkenalkan psikolog Leon Festinger, manusia cenderung menilai kemampuan, pencapaian, hingga kondisi dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain.
Perbandingan tidak selalu berdampak buruk. Dalam situasi tertentu, seseorang dapat menjadikannya sebagai motivasi untuk berkembang. Namun, ketika kebiasaan tersebut berubah menjadi cara menghakimi atau mengkritik orang lain, hubungan interpersonal bisa terganggu.
1. Menjadikan orang lain sebagai tolok ukur
Berdasarkan penjelasan dalam laman Love and Abuse, salah satu karakter yang paling menonjol adalah menjadikan orang lain sebagai standar penilaian. Alih-alih melihat seseorang sebagai individu dengan proses dan kemampuannya sendiri, mereka lebih sering menilai berdasarkan pencapaian, kelebihan, atau kualitas orang lain.
2. Sering mengkritik lewat perbandingan
Karakter berikutnya adalah menyampaikan kritik dengan membandingkan. Misalnya, membandingkan pasangan dengan mantan, saudara dengan saudara lainnya, atau rekan kerja dengan kolega lain. Cara ini sering digunakan sebagai bentuk kritik, tetapi justru dapat melukai perasaan orang yang dibandingkan.
3. Memiliki standar yang terus berubah
Love and Abuse juga menjelaskan bahwa orang yang gemar membandingkan biasanya memiliki standar yang sulit dipenuhi.
Ketika seseorang berhasil memenuhi harapan, mereka akan mencari sosok lain untuk dijadikan pembanding. Akibatnya, orang yang dibandingkan merasa tidak pernah cukup baik.
Menurut Psychology Today, membandingkan merupakan salah satu cara manusia mengevaluasi diri. Dalam teori tersebut dikenal istilah upward comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul. Cara ini dapat memicu motivasi, tetapi juga berisiko menimbulkan rasa iri atau rendah diri.
Sebaliknya, ada pula downward comparison, yakni membandingkan diri dengan orang yang dianggap memiliki kondisi lebih buruk. Bentuk perbandingan ini dapat meningkatkan rasa percaya diri, tetapi juga berpotensi membuat seseorang memandang rendah orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....