Kearifan Suku Bajo Menjaga Kelestarian Pesisir dan Laut

  • 30 Sep 2026 11:59 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID.Gunungsitoli - masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, menjaga kelestarian pesisir dan laut. Salah satu bukti, terlihat dari mangrove di pemukiman mereka terjaga baik. Hal ini terungkap dalam penelitian Profesor Ramli Utina, dari Universitas Negeri Gorontalo.

Dilansir dari Mongabay.com Suku Bajo terkenal sebagai pelaut ulung, dan berdiaspora di beberapa wilayah lain di Indonesia. Di Gorontalo, komunitas ini bermukim di pesisir Desa Torosiaje, Desa Torosiaje Jaya, Desa Bumi Bahari di Kabupaten Pohuwato, dan Desa Tanjung Bajo di Kabupaten Boalemo. Permukiman mereka di Desa Torosiaje dibangun di laut sejak 1901, dengan luas lebih kurang 200 hektar. Pembangunan sosial ekonomi dan perkembangan akses penduduk memungkinkan penyebaran masyarakat Bajo ke wilayah pesisir lain.

Penduduk Desa Torosiaje tahun 2011 terdata 1.334 jiwa meliputi 338 keluarga, lebih dari 99 persen Suku Bajo. Penduduk usia kerja sebagai nelayan 24,1 persen.

Sarana dan prasarana pendidikan tersedia TK dan SD, dan di desa terdekat yaitu Torosiaje Jaya dan Bumi Bahari ada SMP dan SMK Kelautan. Akses penduduk usia sekolah terhadap pendidikan terdata 26 persen menempuh pendidikan tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

Masyarakat Bajo di Desa Torosiaje dan dua desa terdekat membentuk kelompok sadar lingkungan (KSL), yang memperoleh pendampingan dari LSM. Dampaknya, telihat pada pelestarian ekosistem pesisir, hutan mangrove sangat baik dan padat.

Dalam tiga tahun terakhir persentase tutupan mangrove mencapai 80-91 persen, dengan kerapatan 5.700-6.000 pohon per hektar. Padang lamun tersebar hampir merata terutama di luar kawasan mangrove, kecuali pada jalur lalu lintas perahu pertumbuhan lamun terganggu. Kondisi terumbu karang di sekitar permukiman penduduk cukup baik.

Perumahan penduduk berupa panggung di atas permukaan air laut di kedalaman antara satu sampai delapan meter. Antarrumah dihubungkan dengan jembatan kayu. Tiang rumah dan jembatan dibangun menggunakan kayu dari tanaman tahan air, gopasa, diambil di luar kawasan mangrove.

Awalnya, masyarakat menggunakan tanaman sudah tua dan mati disebut Posi-posi, yang diambil dari hutan mangrove. Perahu dayung atau bermotor tempel sebagai sarana angkutan dan perdagangan bahan makanan pokok.

Pemerintah daerah membangun jembatan konstruksi beton dari arah pantai melewati kawasan padat hutan mangrove dan padang lamun. Namun, hanya sebatas area pasang-surut dan tak mencapai perumahan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....