Sejarah Asal Mulanya Bulan Safar

  • 18 Agt 2026 15:58 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.,CO.ID,Gunungsitoli - Asal mula nama bulan Safar berasal dari kebiasaan masyarakat Arab kuno yang mengosongkan rumah mereka untuk pergi berperang, berdagang, mengembara atau bepergian jauh setelah bulan Muharram sehingga perkampungan menjadi sepi. Istilah "Safar" secara bahasa berakar dari kata yang berarti kosong, sunyi atau hampa (shifr atau shafira) sebagaimana dirilis laman mui.or.id

Menurut para ahli sejarah dan ulama klasik seperti Imam Ibnu Katsir dan Ibnu Mandzur, ada beberapa alasan utama di balik penamaan bulan Safar:

Bulan Safar jatuh tepat setelah bulan Muharram. Pada masa Arab Jahiliyah, Muharram adalah bulan suci yang mengharamkan peperangan. Begitu bulan Muharram usai dan memasuki bulan Safar, masyarakat Arab berbondong-bondong keluar rumah untuk berperang atau berniaga sehingga perkampungan mereka menjadi kosong melompong seperti dirilis laman baznas.go.id.

Sebagian pendapat menyatakan kata Safar juga berkaitan dengan warna kuning. Ini merujuk pada musim gugur ketika dedaunan menguning atau kondisi masyarakat arab kuno yang rawan terkena penyakit kuning/pucat pada masa itu. Pendapat lain menyebutkan bahwa orang Arab kuno sering menyerang kabilah lain hingga kabilah yang diserang tersebut harus pergi tanpa membawa bekal apa pun (kosong) demi menyelamatkan diri seperti dimuat laman mui.or.id

Pada masa Arab jahiliyah, penamaan kalender Hijriah sangat dipengaruhi oleh fenomena alam dan sosial masyarakat setempat. Menurut catatan Imam Jalaluddin Al-Suyuthi, masyarakat Jahiliyah awalnya menyebut bulan Muharram dan Safar secara bersamaan dengan nama Al-Safaran (dua bulan Safar). Kemudian Rasulullah SAW memberikan nama khusus untuk bulan pertama dengan sebutan Syahrullah Al-Muharram (Bulan Allah yang Suci), sehingga bulan kedua berdiri sendiri dengan nama Safar seperti dirilis laman baznas.go.id

Masyarakat Arab kuno meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, penuh petaka atau tempat bersarangnya penyakit. Rasulullah SAW dengan tegas membantah anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau mendatangkan malapetaka.

Dalam hadis sahih riwayat Imam Al-Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan) dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar."

Islam menegaskan bahwa semua bulan adalah milik Allah SWT dan setiap waktu memiliki kedudukan yang sama sebagai wadah bagi manusia untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya seperti dimuat laman baznas.go.id

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....