STT BNKP Sundermann Sambut Kunjungan Keluarga Misionaris RMG
- 27 Jul 2026 21:26 WIB
- Gunung Sitoli
RRI, CO.ID. Gunungsitoli - Merupakan suatu sukacita dan kehormatan ketika STT BNKP Sundermann menerima kunjungan keluarga salah seorang misionaris RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) asal Jerman, Eduard Fries (1904-1920). Rombongan tersebut terdiri dari Dr. Martin Humburg, Pdt. Martin Fries, Almuth Fries (ketiganya cucu Eduard dan Elfriede Fries), serta Maja Henneberg, cicit Eduard dan Elfriede Fries pada Senin 20 Juli 2026
Dikutip dari lamanya Facebook Pdt. Gustav G. Harefa, M.Th merupakan Dosen STT BNKP Sundermann menuturkan kesempatan yang berharga ini, mereka membagikan kisah pelayanan kakek mereka selama melayani di Pulau Nias pada tahun 1904–1920. Kisah tersebut juga diambil dari buku “Di Tanö Niha – Eduard Fries: Sang Misionaris dan Pelukis di Pulau Nias” yang diterbitkan oleh Museum Pusaka Nias. Editor cucunya sendiri Martin Humburg, Martin Fries dan Mai Lin Tjoa Bonatz.
Selain buku ini tentang catatan sejarah perjalanan E. Fries, beliau sendiri banyak menulis termasuk tentang Nias baik dalam Bahasa Jerman dan Nias. Salah satunya buku “Nias: Amuata Hulo Nono Niha”, yang terbit tahun 1919.
Dari pemaparan mereka dan ditambah literatur yang saya baca, Eduard Fries lahir dan dibesarkan dalam tradisi Pietisme, sebuah gerakan pembaruan kerohanian yang berkembang di Jerman sejak abad ke-17, khususnya di kota Halle. Bahkan ayahnya, Wilhelm Fries, pernah menjabat sebagai Direktur Yayasan Francke, lembaga yang didirikan oleh August Hermann Francke, salah satu tokoh utama gerakan Pietisme.

Pada 5 Agustus 1903, Eduard Fries diteguhkan sebagai misionaris untuk diutus ke Nias. Setahun kemudian ia berlayar menuju Pulau Nias dan tiba pada 10 Januari 1904. Langkah pertama yang ia lakukan adalah belajar Bahasa dan budaya Nias di Ombolata (Gunungsitoli) di bawah pendampingan Misionaris Fehr. Baginya, memahami bahasa dan budaya merupakan pintu masuk untuk mengenal hati masyarakat Nias.
Kesempatan berikutnya semakin memperkaya pemahamannya ketika ia menemani pejabat Belanda bernama Eman berkeliling Pulau Nias. Dalam perjalanan tersebut Fries tidak hanya mengumpulkan berbagai informasi mengenai kehidupan masyarakat, tetapi juga melukis panorama alam, membuat sketsa, serta menggambar peta wilayah Nias (hasilnya bisa dilihat di buku di Tano Niha…).
Setelah mengenal kondisi pulau Nias, Fries memutuskan melayani di daerah pedalaman, yaitu Sifaoroasi—yang berarti "tempat orang dapat melihat laut"—wilayah yang kini berada di Kecamatan Huruna, Kabupaten Nias Selatan. Ia berangkat dari Ombolata pada 22 Maret 1905. Namun, pelayanan di Sifaoroasi jauh dari kata mudah. Selain menghadapi masyarakat yang masih menaruh curiga terhadap kehadiran orang asing, ia juga harus bergumul dengan sifat keras masyarakatnya, situasi kemiskinan, wabah malaria, dan berbagai kesulitan hidup. Bahkan, dua anaknya meninggal dunia hanya dalam selang waktu beberapa hari akibat penyakit yang melanda daerah tersebut. (bdk. Buku A. Luck, Fanörö Tödö si 75 Fakhe).
Titik balik pelayanan mulai terlihat sekitar tahun 1907, ketika seorang tokoh masyarakat bernama Ama Dahamböwö (sumber lain Ama Dahömböwö, memutuskan membuang patung Adu sebagai simbol meninggalkan kepercayaan lama. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi sangat baik, dan bersama-sama mereka mengajak masyarakat menerima Injil. Buah pelayanan mulai nyata. Pada 26 Desember 1909, tepat pada perayaan Natal, dilaksanakan baptisan pertama sekaligus pentahbisan gereja yang baru. Hanya dalam beberapa tahun, perkembangan jemaat berlangsung pesat. Pada tahun 1912 telah tercatat sekitar 238 orang Kristen, sementara sekitar 500 orang lainnya sedang mengikuti pendidikan katekisasi yang dilayani oleh 17 orang guru (bdk. Buku A. Luck, Fanörö Tödö si 75 Fakhe).

Pada 20 April 1913, Eduard Fries dipindahkan ke Seminari Ombolata. Di tempat inilah ia membuka Sekolah Pendeta pada tahun 1914–1916, yang kemudian melahirkan empat pendeta pribumi pertama (setelah Sitefano sekitar tahun 1906), yaitu Filemo I Harefa, Kolingö Lase, Yosefo Lawölö, dan Faogöli Lase. Tahun 1920, ia kembali ke Jerman untuk mengemban tugas sebagai Direktur RMG (bdk juga dengan tulisan A. Luck, Fanörö Tödö si 75 Fakhe dan buku Uwe Hummel & Tuhoni Telaumbanua, Salib & Adu, BPK-GM, 2015).
Warisan pelayanannya terus bertumbuh. Wilayah pelayanan Sifaoroasi kemudian berkembang menjadi salah satu dari tujuh resort pertama BNKP, bahkan menjadi tuan rumah Persidangan Majelis Sinode BNKP ke-2 pada tahun 1937.
Salah satu hal yang paling mengesankan dari Eduard Fries adalah pendekatan pelayanannya. Ia tidak hanya datang untuk memberitakan Injil, tetapi juga berusaha memahami secara mendalam bahasa, budaya, sastra, dan nyanyian masyarakat Nias. Dalam buku Tuhoni Telaumbanua dan Uwe Humel, Salib dan Adu dituliskan:
"Fries mempelajari dan mempopulerkan lagu-lagu dan puisi tradisional untuk memperoleh pemahaman tentang irama, kiasan, dan simbol-simbol yang tersembunyi dalam Bahasa Nias. Hal ini mempermudah dan memungkinkan upaya mengkomunikasikan ajaran Kristen." (hlm. 127)
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Injil tidak hadir untuk menghapus identitas budaya, melainkan memahami, menghargai, dan mentransformasikannya melalui kasih Kristus. BNKP sendiri menghargai E. Fries dengan menjadikan namanya di Yayasan Pendidikan E. Fries yang menangani PAUD di BNKP.
Kini Eduard Fries telah lama tiada. Namun, jejak pelayanannya tetap hidup dalam sejarah gereja, pendidikan, dan kehidupan masyarakat Nias. Nama beliau mungkin hanya menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi pengorbanan, kasih, dan dedikasinya akan terus dikenang sebagai warisan iman yang berharga bagi Tanö Niha.
Dalam tulisanya Pdt. Gustav G. Harefa menyampaikan ucapan terimakasih buat cucu dan cicit misionaris E. Fries yang telah hadir dan mengingatkan kisah hidup E. Fries.
Teringat dengan Ibrani 13:7, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....