Kisah Petani Mengelola Lahan 5 Hektar: Merawat Durian, Memanen Sayuran

  • 01 Jul 2026 17:12 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Memadukan durian dengan tanaman hortikultura di lahan 5 hektar adalah strategi cerdas dari Syahrul Baeha untuk memaksimalkan fungsi lahan. Baginya, cara ini memberikan keuntungan ganda sebelum pohon durian memasuki masa panen.

Pemandangan ini didapatkan ketika berkunjung di kediaman Syahrul Baeha di Desa Muzoi, kecamatan Lahewa Timur, Kabupaten Nias Utara.

Saat menginjakkan kaki di pelataran rumahnya, wangi aroma durian langsung menghampiri indra penciuman. Tidak hanya terlihat di depan rumah, bahkan di samping kiri kanan, hingga di belakang rumah tampak tumpukan buah durian. Tidak hanya itu, lahan kebun hortikultura ini juga dipenuhi bedengan buah semangka yang tampak sedang siap di panen dan berukuran besar-besar, rata-rata diatas ukuran 7 kilogram. Bedengan semangka berdampingan dengan terung ungu, cabe rawit, jagung manis, hingga timun.

Terdapat rumah panggung di sebelah rumah utama, disitulah tempat Ia menyimpan hasil kebun ini.

Syahrul Baeha bercerita, saat lahan peninggalan orangtua yang berukuran 5 hektar ini, mulai Ia lanjutkan menggarapnya. Semua berawal ketika Ia kembali pulang merantau dari Tanah Jawa. Syahrul mengatakan, sejak tahun 1995, lahan kebun ini terlantar. Didalamnya ada pohon karet, mahoni, durian dan berbagai macam jenis tumbuhan lainya.

“Tahun 1982 sampai tahun 2001, selama 19 tahun saya merantau di Tanah Jawa, lalu kembali ke Pulau Nias. Sesampainya disini, saya bahkan pernah mengisi waktu dengan mengajar di sekolah tingkat SMA. Dan di saat terjadi gempa di Pulau Nias, saya kembali lagi hijrah ke Jawa membawa keluarga. Disanalah saya mulai mengisi waktu dengan belajar bercocok tanam hortikultura,” ujarnya.

Sebelum kembali ke kampung halaman, pada tahun 2002, Ia malah bergabung dengan kelompok tani di Muara Indah Kecamatan Gunungsitoli Utara. Berbagai tanaman hortikultura berhasil diproduksi di lahan tersebut seperti semangka, melon, jagung manis dan cabe. Berlanjut di tahun 2014, Syahrul Baeha juga sempat membuka lahan di kawasan Islamic center desa Olora kecamatan Gunungsitoli Utara dengan bertanam cabe, hingga pada akhirnya di tahun 2025, Syharul Baeha memutuskan untuk kembali ke desa Muzoi kecamatan Lahewa Timur menggarap kebun yang terlantar itu.

Sejauh mata memandang, lahan ini dipenuhi pohon durian menjulang, Ia, lalu berinisiatif menggabungkan komoditas lain dalam satu kebun. Strategi tumpang sari itulah, menurutnya, cara mendapatkan keuntungan. Durian adalah investasi jangka panjang yang butuh bertahun-tahun untuk berbuah. Sedangkan tanaman hortikultura punya siklus cepat. Sembari menunggu durian besar, sela-sela lahan ditanami semangka, terong ungu, jagung manis, cabe rawit dan timun yang bisa panen dalam waktu beberapa bulan saja.

“Disini saya tanam semangka sebanyak 12 bedeng, Alhamdulillah panennya mencapai 2, 5 ton. Disisi sebelah kanan lahan semangka, saya tanami dengan terong ungu dan ini sudah berumur 1,5 bulan sudah mulai dapat dipetik hasilnya,’ kata Syahrul.

Berpindah di lahan berikutnya, tampak 2.000 batang tanaman cabe rawit akan dipetik hasilnya, jagung manis dan timun juga tak kalah subur yang terlihat dari daunnya yang hijau pekat dan lebar.

“Bagi saya ini menjadi ladang percontohan. Saya sangat terbuka bagi siapapun warga masyarakat yang ingin bertukar pikiran ataupun berbagi pengalaman. Insya Allah saya siap membantu,” ucapnya.

Merawat buah-buahan yang karakternya berbeda jauh begini, susah –susah gampang kata Syahrul. Manajemen air super ketat, tantangan cuaca ekstrem, hingga penanganan hama yang berbeda. Semua Ia kerjakan dengan telaten dan tenaga manual.

“Setiap jenis buah membutuhkan jumlah air yang berbeda. Pemberian air harus diukur secara presisi. Kekurangan air akan menghambat pertumbuhan, sementara kelebihan air memicu pembusukan akar. Disisi lain, perubahan iklim membuat suhu dan curah hujan juga sangat sulit ditebak. Begitu juga hama yang menyerang buah A biasanya tidak sama dengan hama pada buah B. Pengendalian yang kita lakukan juga tidak selalu menggunakan bahan kimia. Misalnya Antracol jangan digunakan pada tanaman semangka ataupun melon,” katanya.

Syahrul Baeha ini juga berprofesi sebagai guru dan sudah mendekati masa pensiunan. Ia mengatakan, bahwa akan mengisi masa tuanya untuk tinggal di desa ini dan melanjutkan hobinya berkebun. Ia merasa bersyukur berhasil menggabungkan tanaman jangka panjang dan jangka pendek ini. Hasil panen buah dan sayur memberi tambahan uang harian, sementara hasil panen durian memberinya keuntungan besar saat musim panen tiba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....