Asal Mula Penamaan Bulan Dzulhijjah

  • 26 Mei 2026 10:49 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID,Gunungsitoli - Dzulhijjah adalah bulan ke-12 dan terakhir dalam kalender Hijriah yang sangat dimuliakan, berfokus pada sejarah ibadah haji, kurban dan pengampunan dosa. Bulan ini bermakna "pemilik haji" karena merupakan waktu pelaksanaan rukun Islam kelima. Sejarahnya berakar dari peristiwa penting nabi-nabi, terutama kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Bulan Dzulhijjah secara harfiah berarti "Pemilik Haji", berasal dari kata Arab Dzu (pemilik) dan Al-Hijjah (haji). Nama ini bertahan dari masa sebelum Islam karena ibadah haji sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak masa Nabi Ibrahim AS. Merupakan salah satu dari empat bulan yang disucikan (Asyhurul Hurum) melarang melakukan peperangan agar dapat berhaji dengan aman.

Bulan ini menjadi waktu diwajibkannya ibadah haji dan kurban, yang berakar dari ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih kurban. Pada tanggal 1 Dzulhijjah, diyakini Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS setelah dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi serta mempertemukannya dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah, Arafah sebagaimana dilansir laman lembaga sosial pesantren tebuireng.

Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS membangun dasar-dasar Ka'bah di Makkah atas perintah Allah SWT yang diabadikan dalam bulan ini. Sepuluh hari pertama Dzulhijjah dianggap sebagai hari-hari paling utama untuk meningkatkan amal saleh melebihi jihad sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

Peristiwa bersejarah lain mencakup Allah menyelamatkan Nabi Yunus AS dari perut ikan paus (1 Dzulhijjah) dan dikabulkannya doa Nabi Zakaria AS. Puncak perayaan terjadi pada 10 Dzulhijjah (Idul Adha) dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) dimulainya penyembelihan hewan kurban. Pertemuan penting antara Rasulullah SAW dengan penduduk Madinah yang menjadi cikal bakal hijrah yang dikenal dengan "Perjanjian Aqabah".

Ujian keimanan tertinggi terjadi ketika Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail. Berkat ketakwaan mereka, Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor domba. Peristiwa ini menjadi sejarah disyariatkannya kurban yang dirayakan setiap 10 Dzulhijjah. Puncak ibadah haji dilakukan pada 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) sebagaimana dilansir laman lembaga sosial pesantren tebuireng.

Bagi umat Nabi Muhammad SAW, Dzulhijjah menjadi sangat monumental karena pada bulan ini Rasulullah SAW melaksanakan Haji Wada' (Haji Perpisahan), yang merupakan ibadah haji pertama sekaligus terakhir beliau. Saat berdiri melakukan wukuf di Padang Arafah, Rasulullah SAW menerima wahyu terakhir yang menegaskan kesempurnaan ajaran Islam, yaitu Surah Al-Ma'idah ayat 3. Peristiwa ini menandai berakhirnya tugas dakwah Rasulullah SAW di bumi menjelang wafatnya beliau seperti dilansir laman jensoed tv masjid Sudirman pwt.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....