The Power of Kepepet, Mengapa Kita Lebih Cepat saat Terdesak?

  • 17 Apr 2026 16:21 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Fenomena “kepepet” sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan yang ditunda justru menjadi lebih cepat dikerjakan saat mendekati tenggat waktu. Secara ilmiah, hal ini berkaitan dengan perubahan sementara pada sistem saraf, hormon, dan cara otak mengambil keputusan.

Ketika waktu semakin menipis, tubuh mengaktifkan sistem saraf simpatis, yaitu bagian dari sistem saraf otonom yang bertanggung jawab pada respons “fight or flight” atau respons darurat. Aktivasi ini meningkatkan kewaspadaan, detak jantung, serta kesiapan fisik dan mental untuk bertindak lebih cepat.

Pada saat yang sama, terjadi perubahan pada neurotransmitter di otak. Dopamin, yang berperan dalam motivasi dan penentuan prioritas, meningkat saat situasi dianggap mendesak. Dopamin dalam konteks ini tidak hanya terkait rasa senang, tetapi juga membantu otak menandai sesuatu sebagai hal yang harus segera diselesaikan. Selain itu, norepinephrine meningkatkan fokus dan kewaspadaan, sehingga otak lebih sulit terdistraksi.

Dari sisi kognitif, terjadi cognitive narrowing, yaitu penyempitan fokus sehingga otak hanya memproses informasi yang dianggap penting. Bersamaan dengan itu, temporal discounting membuat otak tidak lagi menunda karena masa depan terasa semakin “dekat secara psikologis”, sehingga dorongan untuk bertindak meningkat.

Di level kontrol, aktivitas prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam perencanaan, bergeser dari analisis panjang ke mode eksekusi cepat. Akibatnya, keputusan diambil lebih cepat dengan pertimbangan yang lebih sederhana.

Kombinasi seluruh mekanisme ini membuat seseorang tampak jauh lebih produktif saat “kepepet”, menjadi lebih fokus, lebih cepat bertindak, dan lebih minim distraksi.

Namun, kondisi ini bersifat sementara dan dipicu tekanan. Dalam jangka panjang, ketergantungan pada situasi ini dapat menurunkan kualitas kerja, meningkatkan stres, dan mengganggu stabilitas produktivitas. Dengan demikian, “kepepet” pada dasarnya adalah perubahan sementara pada sistem biologis dan kognitif yang menggeser otak dari mode perencanaan menjadi mode eksekusi cepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....