Mengapa Seseorang Bisa Merasa Malas?

  • 17 Apr 2026 14:20 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Rasa malas sering dianggap sebagai kurangnya niat. Padahal, dari sudut pandang ilmiah, kondisi ini merupakan respons tubuh yang melibatkan kerja otak, hormon, dan energi.

Di dalam otak, terdapat zat kimia yang disebut dopamin, yaitu senyawa yang membantu sel saraf berkomunikasi sekaligus memengaruhi motivasi dan rasa tertarik terhadap suatu aktivitas. Saat dopamin berada pada tingkat yang cukup, seseorang cenderung lebih mudah bergerak dan menyelesaikan tugas. Namun ketika kadarnya menurun, aktivitas sederhana bisa terasa lebih berat dari biasanya.

Selain itu, tubuh juga menghasilkan hormon seperti kortisol, yaitu hormon yang dilepaskan saat seseorang mengalami stres. Dalam jumlah normal, kortisol membantu tubuh tetap waspada. Tetapi jika kadarnya tinggi dalam waktu lama, kondisi ini justru dapat menimbulkan kelelahan mental dan menurunkan dorongan untuk beraktivitas.

Tubuh manusia pada dasarnya bekerja dengan prinsip efisiensi energi. Ketika kurang tidur, kelelahan, atau asupan nutrisi tidak mencukupi, otak akan “mengurangi” keinginan untuk melakukan aktivitas berat. Dalam konteks ini, rasa malas bisa menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan istirahat.

Di sisi lain, kebiasaan sehari-hari turut membentuk pola ini. Jika seseorang terbiasa menunda pekerjaan, otak akan menganggap perilaku tersebut sebagai pilihan “normal”, sehingga kecenderungan untuk menghindari tugas menjadi semakin kuat.

Untuk mencegah rasa malas, penting menjaga keseimbangan antara kondisi fisik dan mental. Istirahat yang cukup, pola makan yang teratur, serta pengelolaan stres dapat membantu menjaga energi dan fokus. Selain itu, membangun kebiasaan kecil seperti memulai tugas secara bertahap juga dapat melatih otak agar lebih responsif terhadap aktivitas, sehingga dorongan untuk bertindak dapat muncul secara lebih konsisten.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....