Menyeberang Maut Demi Sekolah: Jeritan Pelajar Banua Sibohou di Sungai Mua

  • 17 Apr 2026 08:39 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Nias Utara - Langit Namohalu Esiwa masih kelabu. Di tepi Sungai Mua yang cokelat dan bergemuruh, seragam merah putih bergerombol. Mereka pelajar SD dari Dusun 2 Desa Banua Sibohou. Tas sudah di punggung, tapi langkah terhenti. Arus sungai terlalu deras untuk diseberangi.

Sungai Mua adalah nadi penghubung Desa Banua Sibohou dengan Desa Sisarahili Kecamatan Namohalu Esiwa. Bagi warga, sungai ini jalan utama ke sekolah, ke ladang, ke pasar. Masalahnya, sampai hari ini tidak ada jembatan permanen. Setiap musim hujan, Mua berubah jadi pemisah yang kejam.

“Mereka tidak bisa ke sekolah karena arusnya deras dan berbahaya,” kata Ama Luky Zega, warga Banua Sibohou, kepada rri.co.id. Ia menyebut pelajar SD, SMP, sampai SMA dari Dusun 2 paling terdampak. Sekali Mua meluap, buku dan cita-cita harus menunggu air surut.

Pelajar SD dan SMP Saat Berada di Pinggir Sungai Mua Didampingi Orangtua

Dusun 2 dihuni sekitar 40 kepala keluarga. Derita yang sama dialami warga desa tetangga: Namohalu 5 KK, Desa Mado Laoli Kecamatan Gunungsitoli 4 KK, dan Desa Hambawa Kecamatan Gunungsitoli Utara 2 KK. Total puluhan pelajar terpaksa absen massal setiap banjir datang. Pendidikan mereka putus bukan karena malas, tapi karena tak ada jembatan.

Dulu warga patungan bikin jembatan darurat dari kayu dan bambu. Swadaya, alakadarnya. Tahun 2025, banjir besar datang dan merobohkannya. Sejak itu, menyeberang Mua artinya taruhan nyawa. Sebagian nekat merangkak di sisa-sisa kayu lapuk. Sebagian lain memilih bolos, tinggal di rumah.

“Semoga Ba ak Presiden segera merealisasikan pembangunan jembatan di Sungai Mua,” ucap Floren Jesika Zebua, pelajar SD lirih. Suaranya mewakili puluhan teman sebayanya. Bagi Floren, jembatan bukan soal besi dan semen. Jembatan adalah hak untuk belajar tanpa takut hanyut.

Pelajar Terpaksa Basah Walaupun Sungai Mua Tidak Banjir

Ama Luky Zega menitip harapan langsung ke Presiden dan TNI. Ia meminta pembangunan Jembatan Gantung program Karya Bakti TNI Skala Besar 2026 diarahkan ke Sungai Mua. “Kami harap Presiden RI Prabowo Subianto dan TNI bisa memperhatikan kami. Jembatan ini penting untuk memperlancar mobilitas, distribusi hasil pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Harapan warga diamini Danramil 07/Alasa, Peltu Bedali Mendrofa. Ia menyebut usulan pembangunan jembatan gantung di Sungai Mua sudah dikirim ke Markas Besar Angkatan Darat. Hasil survei TNI, bentang sungai cukup lebar dengan arus deras saat musim hujan. Konstruksi jembatan gantung jadi opsi paling masuk akal.

“Setiap harinya jalur tersebut dilewati masyarakat, utamanya pelajar. Kondisinya cukup memprihatinkan karena ketika musim hujan sungai meluap dan sulit dilalui. Bahkan para pelajar tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar karena akses terputus,” jelas Peltu Bedali.

Di tepi Mua yang masih bergemuruh, seragam merah putih itu pelan-pelan berbalik. Hari ini mereka gagal ke sekolah lagi. Mereka pulang membawa tas penuh buku yang tak dibuka, dan pertanyaan yang sama: kapan jembatan itu datang? Warga Banua Sibohou yakin, seutas jembatan gantung akan menyambung lagi masa depan anak-anak mereka yang sempat terputus oleh derasnya Sungai Mua.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....