Ketupat: Simbol Maaf dan Kebersamaan

  • 06 Apr 2026 08:25 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Ketupat sudah menjadi hidangan wajib saat Lebaran di Indonesia, tetapi tidak semua orang mengetahui asal usulnya. Banyak yang mengira ketupat hanya sekadar makanan pelengkap, padahal di balik bentuknya yang sederhana tersimpan sejarah dan makna yang cukup dalam. Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya yang melekat dalam perayaan Idulfitri.

Sejarah ketupat sering dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Ia dikenal menggunakan pendekatan budaya agar ajaran agama lebih mudah diterima oleh masyarakat. Salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan ketupat sebagai simbol perayaan Lebaran yang sarat makna (Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 2008). Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak merasa asing karena tradisi baru dikemas dalam bentuk yang sudah dekat dengan kehidupan mereka.

Menariknya, istilah “ketupat” dipercaya berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini sangat erat dengan makna Lebaran, yaitu saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa. Selain itu, anyaman janur yang rumit melambangkan kesalahan manusia yang berlapis-lapis, sedangkan bagian dalam ketupat yang putih bersih mencerminkan hati yang kembali suci setelah meminta maaf dan memaafkan (Geertz, The Religion of Java, 1960).

Hal yang jarang diketahui masyarakat adalah adanya tradisi “Lebaran Ketupat” yang biasanya dirayakan sekitar satu minggu setelah Idulfitri, khususnya di beberapa daerah di Jawa. Tradisi ini menjadi momen lanjutan untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan sosial. Ketupat tidak hanya dimaknai sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan keberlanjutan nilai-nilai saling memaafkan dalam kehidupan sehari-hari (Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, 1984).

Seiring berjalannya waktu, ketupat tidak hanya dikenal di Jawa, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dengan variasi penyajian yang berbeda. Meski bentuk dan lauk pendampingnya beragam, makna filosofisnya tetap sama, yaitu tentang kesederhanaan, kebersihan hati, dan kebersamaan. Inilah yang membuat ketupat tetap bertahan sebagai makanan khas Lebaran yang tidak hanya lezat, tetapi juga penuh nilai budaya yang penting untuk terus dilestarikan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....