Malamang, Balimau dan Ziarah Kubro, Tradisi Khas Daerah Sambut Ramadan

  • 02 Mar 2026 08:48 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID. Gunungsitoli - Setiap tradisi memiliki makna mendalam, baik sebagai ungkapan syukur maupun persiapan spiritual. Selain memperkaya budaya Indonesia, tradisi ini juga memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat.

Melansir dari situs kemenparekraf.go.id, berikut ini tradisi menyambut ramadan di daerah-daerah Indonesia:

Malamang (Padang, Sumatera Barat)

Malamang adalah tradisi memasak lemang (ketan yang dimasak dalam bambu kemudian dibakar dengan api unggun) di Sumatera Barat sebagai simbol kebersamaan dalam menyambut Ramadan. Tradisi ini dilakukan secara gotong royong, masyarakat berkumpul untuk menyiapkan lemang yang nantinya akan dibagikan kepada keluarga dan tetangga.

Lemang yang dibuat dalam tradisi Malamang biasanya memiliki cita rasa khas karena dimasak dengan cara tradisional. Proses pembuatannya yang memakan waktu lama justru menjadi momen untuk berbincang dan mempererat hubungan sosial. Di balik kesederhanaan makanan tersebut, tradisi Malamang dilakukan untuk memupuk rasa kebersamaan antar masyarakat Minangkabau.

Balimau (Padang, Sumatera Barat)

Selain Malamang, masyarakat Sumatera Barat juga memiliki tradisi Balimau, yaitu mandi dengan air yang dicampur dengan jeruk nipis dan wewangian.

Kegiatan tersebut melambangkan penyucian diri, baik secara lahir maupun batin sebelum memasuki bulan suci. Biasanya, balimau dilakukan di sungai atau pemandian umum dengan suasana penuh kebersamaan sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Beberapa tempat wisata air juga menjadi ramai saat tradisi ini berlangsung menjelang Ramadan.Tradisi ini menjadi ajang silaturahim bagi masyarakat Minangkabau.

Ziarah Kubro (Palembang, Sumatera Selatan)

Di Palembang, Ziarah Kubro adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Palembang dengan mengunjungi dan berdoa di makam para ulama besar di daerah tersebut. Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Ramadan dan diikuti oleh ribuan peziarah dari berbagai daerah. Tradisi ini bertujuan untuk mengenang jasa para ulama serta mendoakan mereka.

Selain sebagai ajang spiritual, Ziarah Kubro juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahim antar warga. Para peziarah biasanya berjalan beriringan dalam prosesi yang khidmat, mengenakan pakaian putih sebagai simbol kesucian dan kebersihan hati. Tradisi ini juga sering disertai dengan pembacaan doa bersama dan kajian keislaman yang memperdalam pemahaman agama sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....