Takjil: Dari Sunnah Menjadi Tradisi

  • 26 Feb 2026 09:53 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Setiap bulan Ramadan tiba, suasana sore di berbagai penjuru Indonesia seakan berubah wajah. Langit senja yang perlahan menguning menjadi saksi hiruk-pikuk masyarakat yang bersiap menyambut waktu berbuka. Di tepi jalan, pedagang musiman menjajakan aneka makanan dengan aroma menggoda. Masjid-masjid menata hidangan sederhana di atas nampan panjang, sementara keluarga di rumah sibuk menyiapkan sajian terbaik. Di tengah semarak itu, istilah “takjil” begitu akrab terdengar. Namun di balik kepopulerannya, tersimpan kisah panjang tentang makna yang sering kali terlupakan.

Secara bahasa, takjil berasal dari kata Arab “ʿajjala–yuʿajjilu” yang berarti menyegerakan. Dalam ajaran Islam, menyegerakan berbuka puasa merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad dan tercantum dalam Sahih al-Bukhari serta Sahih Muslim: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berbuka dengan beberapa butir kurma sebelum salat, atau dengan air jika tidak ada kurma. Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa makna awal takjil bukanlah jenis makanan tertentu, melainkan tindakan menyegerakan berbuka begitu matahari terbenam sebagai bentuk ketaatan, keseimbangan dalam beribadah, dan rasa syukur kepada Allah. Dengan demikian, takjil pada mulanya adalah konsep spiritual yang sarat makna, bukan sekadar istilah kuliner seperti yang berkembang di masyarakat saat ini.

Seiring perjalanan waktu dan penyebaran Islam ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara, pemaknaan takjil mengalami pergeseran yang unik. Di Indonesia, istilah ini kemudian melekat pada makanan dan minuman pembuka puasa. Tradisi lokal yang kaya cita rasa membuat takjil berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadan. Kolak pisang yang manis dan hangat, es buah yang segar, hingga aneka gorengan renyah menjadi simbol kebersamaan saat azan Magrib berkumandang. Pergeseran makna ini bukanlah penyimpangan, melainkan bentuk adaptasi budaya yang memperkaya tradisi.

Keberagaman kuliner Nusantara turut memberi warna tersendiri pada tradisi takjil. Di Jawa, kolak dengan kuah santan lembut menjadi primadona berbuka. Di Sumatra, bubur kampiun dan es tebu kerap menjadi pilihan yang menyegarkan. Sementara di berbagai kota besar, kreasi takjil modern bermunculan dengan sentuhan kekinian. Tidak hanya soal rasa, tradisi berbagi takjil di masjid, sekolah, hingga di pinggir jalan menjadi wujud nyata solidaritas sosial. Orang-orang dengan tulus membagikan makanan gratis kepada siapa pun yang menjalankan puasa, menghadirkan kehangatan yang melampaui sekadar hidangan.

Pada akhirnya, takjil bukan hanya tentang apa yang disantap ketika berbuka, tetapi tentang nilai yang menyertainya. Ia adalah pengingat untuk menyegerakan kebaikan, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan empati di tengah kehidupan yang serba cepat. Dari makna bahasa yang sederhana hingga menjadi tradisi yang meriah, takjil menjelma simbol manisnya Ramadan. Di setiap tegukan dan suapan, terselip sejarah, ajaran, serta semangat berbagi yang membuat bulan suci terasa semakin bermakna.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....