Dinamika Psikologis Siklus Kekerasan Domestik
- 24 Feb 2026 14:47 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, GUNUNGSITOLI - Di balik pintu sebuah rumah yang tampak tenang, tidak semua cerita berjalan damai. Ada keluarga yang terlihat baik-baik saja di hadapan tetangga, namun menyimpan luka yang tak terlihat. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sering hadir tanpa suara keras yang terdengar ke luar. Ia bisa berupa bentakan yang merendahkan, ancaman halus yang menakutkan, hingga kontrol berlebihan atas keuangan dan pergaulan. Luka semacam ini tidak meninggalkan memar di kulit, tetapi membekas dalam di hati dan pikiran korban.
Banyak korban memilih diam. Mereka bertahan bukan karena kuat, melainkan karena merasa tak memiliki pilihan. Ketergantungan ekonomi, rasa malu membuka aib keluarga, atau ketakutan akan ancaman membuat mereka memendam cerita sendiri. Dalam situasi seperti ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi ruang penuh kecemasan. Anak-anak yang tumbuh dalam suasana tersebut pun kerap menyerap ketegangan, meski tidak selalu memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Konflik dalam rumah tangga sejatinya hal yang wajar. Namun ketika komunikasi tidak berjalan sehat, perbedaan kecil dapat berubah menjadi pertengkaran besar. Ketidakmampuan mengelola emosi sering menjadi bahan bakar munculnya kekerasan. Ditambah lagi dengan tekanan ekonomi, kecemburuan, atau pengaruh alkohol dan penyalahgunaan zat, risiko tindakan agresif semakin meningkat. Di era digital, percikan konflik bahkan bisa bermula dari kesalahpahaman di media sosial, memperlihatkan bahwa dinamika zaman turut memengaruhi pola pertengkaran dalam rumah tangga.
Psikolog Lenore E. Walker menjelaskan melalui teorinya tentang “cycle of violence” bahwa KDRT kerap berlangsung dalam siklus berulang. Ketegangan perlahan meningkat, lalu terjadi ledakan kekerasan, kemudian diikuti fase penyesalan dan janji manis untuk berubah. Pada fase terakhir inilah harapan korban kembali tumbuh. Mereka percaya keadaan akan membaik, hingga tanpa sadar siklus itu terulang kembali. Pola inilah yang membuat banyak korban terjebak dalam hubungan yang menyakitkan selama bertahun-tahun.
Memutus rantai KDRT bukan perkara mudah, tetapi bukan pula hal yang mustahil. Kesadaran masyarakat untuk tidak menormalisasi kekerasan menjadi langkah awal yang penting. Pendidikan tentang relasi sehat, komunikasi yang setara, serta pengelolaan emosi perlu ditanamkan sejak dini. Dukungan keluarga, sahabat, dan lembaga pendamping dapat menjadi jembatan bagi korban untuk bangkit. Pada akhirnya, rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang, ruang yang menghadirkan ketenangan, bukan ketakutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....