Fajar Penentu Puasa

  • 23 Feb 2026 08:24 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Batas imsak sering kali dipahami sebagai tanda dimulainya puasa. Di berbagai daerah, jadwal imsak biasanya diumumkan sekitar sepuluh menit sebelum azan Subuh berkumandang. Akibatnya, tidak sedikit orang yang langsung berhenti makan dan minum ketika waktu imsak tiba, karena mengira saat itu puasa sudah dimulai. Padahal, jika ditelusuri dari sumber ajaran Islam, batas awal puasa sesungguhnya bukanlah imsak, melainkan terbitnya fajar shadiq, yaitu masuknya waktu Subuh.

Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa umat Islam diperbolehkan makan dan minum “hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” Ayat ini menunjukkan bahwa batas akhir sahur adalah terbitnya fajar, bukan beberapa menit sebelumnya. Secara fikih, fajar shadiq ditandai dengan cahaya putih yang membentang horizontal di ufuk timur. Inilah penanda resmi dimulainya puasa, yang kemudian diperkuat dengan dikumandangkannya azan Subuh.

Sejumlah ulama juga menjelaskan hal ini secara tegas. Yusuf al-Qaradawi berpendapat bahwa imsak yang dicantumkan dalam jadwal hanyalah bentuk kehati-hatian (ihtiyath), bukan batas wajib untuk berhenti makan. Menurutnya, selama belum masuk waktu Subuh, seseorang masih diperbolehkan makan dan minum. Pendapat ini sejalan dengan banyak ahli fikih klasik yang menegaskan bahwa patokan utama adalah terbitnya fajar shadiq, bukan waktu imsak yang ditentukan manusia.

Di Indonesia, penjelasan serupa juga pernah disampaikan oleh Quraish Shihab. Ia menerangkan bahwa imsak bukanlah istilah syar’i yang secara khusus ditetapkan sebagai awal puasa, melainkan tradisi untuk mengingatkan agar orang-orang bersiap mengakhiri sahur. Dengan demikian, jika seseorang masih makan beberapa menit sebelum azan Subuh dan belum terdengar tanda masuknya waktu Subuh, puasanya tetap sah. Namun, sikap berhati-hati tetap dianjurkan agar tidak melewati batas waktu tanpa disadari.

Memahami batas imsak yang sebenarnya membantu umat Islam menjalankan puasa dengan tenang dan berdasarkan ilmu. Imsak sebaiknya dipandang sebagai alarm pengingat, bukan garis mutlak dimulainya puasa. Dengan pemahaman yang benar, ibadah puasa menjadi lebih mantap karena dilandasi dalil dan penjelasan ulama. Pada akhirnya, yang terpenting bukan sekadar berhenti makan lebih cepat, melainkan menjalankan puasa sesuai tuntunan syariat dengan penuh kesadaran dan keyakinan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....