Makna Tuwu Nukhada, Sebuah Brand Luxury Kain Tenun Nias

  • 25 Jun 2026 17:40 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Tuwu Nukhada adalah sebuah tenun khas Nias yang memiliki pangsa pasar kaum atas, ini sebuah strategi supaya kain tenun Nias ini bisa menembus pasar global.

Hal ini diungkapkan Raminalai Dakhi S.H., M.Kn., pemilik brand Tuwu Nukhada, seorang perempuan Nias, kelahiran desa Hilisimaotano, dan berkarir sebagai notaris di kota Bogor.

Dari awal membangun bisnis Kain Tenun Nias, Ia sudah memiliki konsep bahwa tenun Nias yang diproduksinya haruslah sebuah hal yang luxury atau mewah. Sehingga orang yang membelinya pun memiliki kebanggaan tersendiri saat mampu membeli dan memiliki kain tenun tersebut. Tidak heran Kain Tenun Tuwu Nukhada sekarang terpajang di lobi utama Gedung Sarinah, Jakarta. Ini menguatkan simbol luxury kain tenun buatannya tersebut.

“Karena saya sudah fokus Nias harus punya sesuatu yang luxury, tidak hanya sebatas biasa saja, saya tidak pernah bermimpi Tuwu Nukhada ini melebihi wastra yang sudah ada, tapi impian saya hanya Tuwu Nukhada ini minimal sejajar dengan kain-kain luxury yang ada saat ini di Indonesia. Kalau mereka bisa kenapa kita tidak bisa,” ucap Raminalai.

Nama Tuwu Nukhada sendiri terinsipirasi dari Lawa-lawa, sebuah bagian penting pada Omo Hada atau rumah tradisional Nias. Ketika Lawa-lawa diangkat maka teranglah rumah tersebut, karena sinar yang masuk melalui lawa-lawa ataupun jendela.

Demikian halnya tenun Nias, masih banyak orang bahkan orang sendiri belum tahu jika nenek moyang orang Nias sudah melakukan tradisi menenun. Mereka menggunakan Ladari dan menenunnya menjadi bahan pakaian. Maka melalui brand Tuwu Nukhada, Raminalai Dakhi ingin mengangkat kain tenun Nias ke permukaan, supaya terlihat oleh siapapun dan mampu sejajar dengan wastra lainnya di Indonesia.

“Saya sangat terinspirasi dengan lawa-lawa, disaat ditutup rumah itu langsung gelap, tetapi disaat diangkat maka terang rumahnya, apa pesannya? saatnya kita munculkan kembali “Fanoso” atau menenun warisan nenek moyang kita, selama ini gelap, saatnya kita angkat, selama ini kita lupa. Tuwu itu artinya kita sokong, kita angkat, kita munculkan, harapannya Tuwu Nukhada ini bisa membawa harapan baru bagi pulau Nias,” katanya.

Sedangkan Nukhada berarti agar setiap orang Nias merasa memiliki kain tenun ini dan merasa bangga dengan wastra ini.

Baca juga: https://rri.co.id/gunung-sitoli/budaya/2520417/melestarikan-fanoso-tradisi-tenun-nias-melalui-tuwu-nukhada?nocache=true⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....