Melestarikan "Fanoso" Tradisi Tenun Nias Melalui Tuwu Nukhada

  • 25 Jun 2026 17:14 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Keinginan untuk menempatkan wastra Nias sejajar dengan wastra lainnya di Indonesia, mendorong seorang perempuan Nias bernama Raminalai Dakhi S.H., M.Kn., mengembangkan kain tenun Nias dengan merek Tuwu Nukhada.

Raminalai atau Ina Taska selama 2 tahun terakhir ini memproduksi kain tenun Nias dengan berbagai motif dan warna kekinian yang mengikuti perkembangan zaman, secara serius dan konsisten. Ia bahkan memiliki rumah tenun dan belasan orang penenun yang tetap memproduksi kain tenun setiap bulannya.

Diungkapkannya nenek moyang orang Nias mengenal tradisi menenun, Fonoso dalam bahasa Nias dan Manoso adalah orang yang mengerjakannya. Saat itu bahan baku yang digunakan adalah Ladari, ladari dipintal-pintal menjadi seperti benang dan ditenun menjadi bahan pakaian. Tradisi ini menurutnya nyaris terlupakan seiring dengan kemajuan peradaban, bahkan masih banyak yang belum mengetahui jika leluhur Nias melakukan kebiasaan menenun dimasa lampau.

Berbekal penelitiannya selama kurang lebih 1 tahun, kini ia sudah memiliki 7 motif budaya Nias yang ia aplikasikan pada kain tenun buatannya.

“Semua ini dimulai saat covid, saya mengikuti dinas suami di Jawa. Saya bertemu dengan orang-orang yang menanyakan kepada saya Nias itu dimana? Apakah ada di peta? dan jujur pertanyaan itu membuat saya freeze, saya berpikir iya yah apa sih yang membuat orang tahu tentang Nias, nah disitulah triggernya akhirnya saya punya kerinduan Nias itu punya kain khas,” katanya, Kamis 25 Juni 2026.

Sejak itu ia lalu melakukan riset menggali budaya Nias, ia membeli banyak buku tentang Nias, termasuk ia banyak mendapatkan literatur dari website Museum Pusaka Nias dan internet, selama 1 tahun ia mempelajari tentang budayanya. Kemudian selama hampir 3 tahun trial and error dan 2 tahun yang lalu lahirlah brand Tuwu Nukhada.

Lebih jauh diungkapkannya sejak membuat dan memperkenalkan kain tenun ini kepada publik, respon yang diberikan menurutnya sangat positif. Orang-orang mengapresiasi kain tenun Tuwu Nukhada dan mereka tertarik dan menjadi tahu akan budaya Nias melalui motif kain tenun.

Kini Kain Tenun Nias Tuwu Nukhada terpajang di Gedung Sarinah yang merupakan community mall atau ruang kreatif untuk memamerkan dan menjual produk-produk lokal unggulan Indonesia. Berada di lobi utama, kain tenun motif Nias kini sejajar dengan wastra nusantara lainnya.

Baca juga: https://rri.co.id/gunung-sitoli/budaya/2520464/makna-tuwu-nukhada-sebuah-brand-luxury-kain-tenun-nias?nocache=true

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....