Lima Gunung Api Indonesia Berstatus Siaga
- 14 Sep 2026 11:56 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian. Sedikitnya lima gunung api yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia tercatat berada pada status Siaga atau Level III, menyusul aktivitas erupsi maupun peningkatan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.
Dilansir dari bisnis.com gunung api tersebut adalah Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda.
Status Siaga atau Level III menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang membutuhkan perhatian lebih serius. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung api juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti setiap rekomendasi yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG.
Gunung Merapi
Gunung Merapi yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Berdasarkan informasi Magma Indonesia Kementerian ESDM, Gunung Merapi berada pada status Siaga Level III.
Merapi memiliki catatan sejarah erupsi yang cukup panjang. Salah satu erupsi terbesar terjadi pada 2010. Aktivitas gunung mulai meningkat dan statusnya dinaikkan menjadi Waspada atau Level II pada 20 September. Setelah itu, aktivitas vulkanik terus mengalami peningkatan yang ditandai dengan gempa vulkanik yang terjadi berulang kali.
Erupsi besar kemudian terjadi pada 26 Oktober 2010. Letusan eksplosif disertai awan panas mulai terjadi dan aktivitas semakin meningkat pada awal November.
Puncak erupsi berlangsung pada 4 hingga 5 November 2010, ketika awan panas meluncur hingga radius sekitar 15 kilometer dari puncak Merapi.
Erupsi tersebut tercatat sebagai salah satu letusan terbesar Merapi dalam satu abad terakhir. Bencana tersebut menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.
Sejarah panjang Merapi juga menunjukkan bahwa gunung ini telah mengalami puluhan kali erupsi sejak 1600-an. Museum Gunungapi Merapi mencatat aktivitas erupsi Merapi terjadi secara berulang dengan rata-rata interval sekitar empat tahun.
Gunung Sinabung
Gunung berikutnya adalah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gunung ini juga berada pada status Siaga Level III.
Aktivitas erupsi Gunung Sinabung kembali terjadi pada akhir Agustus. Setelah erupsi tersebut, pemantauan terus dilakukan terhadap kondisi kawah dan aktivitas vulkanik gunung.
Pada Jumat, 4 September, berdasarkan laporan yang disampaikan, terlihat asap putih tebal dari kawah utama Gunung Sinabung.
Gunung Sinabung memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang cukup panjang. Setelah lama tidak menunjukkan aktivitas erupsi besar, gunung ini kembali meletus pada 2010. Peristiwa tersebut menjadi erupsi pertama Sinabung setelah sekitar 400 tahun tidak mengalami letusan yang tercatat, dan disebut sebagai aktivitas erupsi pertama sejak sekitar tahun 800 Masehi.
Aktivitas Sinabung kembali meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Pada 2013, rangkaian erupsi terjadi dan abu vulkanik bahkan dilaporkan mencapai wilayah Kota Medan.
Status gunung kemudian sempat berada pada tingkat Awas atau Level IV. Pada 2014, aktivitas Sinabung kembali ditandai dengan rentetan gempa, letusan, hingga luncuran awan panas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung api yang aktivitasnya perlu terus dipantau, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana di sekitar lereng gunung.
Gunung Lewotobi Laki-laki
Selanjutnya, terdapat Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Gunung ini juga berada pada status Siaga Level III.
Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat adanya aktivitas vulkanik di kawasan gunung tersebut. Pada Minggu, 6 September, terlihat asap putih dari kawah utama Gunung Lewotobi Laki-laki.
Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki sejarah erupsi yang cukup panjang. Aktivitas gunung api ini kembali menjadi perhatian besar setelah terjadi erupsi pada November 2024.
Pada saat itu, status Gunung Lewotobi Laki-laki sempat dinaikkan menjadi Awas atau Level IV akibat terjadinya erupsi besar. Erupsi tersebut menyebabkan abu vulkanik dan material letusan tersebar ke wilayah sekitar.
Peristiwa tersebut juga menimbulkan dampak kemanusiaan. Sembilan orang meninggal dunia dan ribuan warga harus mengungsi akibat erupsi dan ancaman bahaya vulkanik.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki telah mengalami aktivitas erupsi sejak lama. Berdasarkan catatan Smithsonian Institution, erupsi gunung ini telah tercatat sejak 1675 dan aktivitasnya berlangsung dalam periode yang panjang.
Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri merupakan bagian dari kompleks gunung api kembar di Flores Timur. Aktivitas vulkanik di kawasan tersebut terus menjadi perhatian karena potensi erupsi dapat berubah sewaktu-waktu.
Gunung Semeru
Sementara itu, di Jawa Timur terdapat Gunung Semeru, yang juga tercatat berada pada status Siaga Level III.
Aktivitas erupsi terbaru Gunung Semeru terjadi pada Minggu, 6 September. Erupsi tersebut menghasilkan kolom letusan dengan ketinggian sekitar 1.000 meter dari puncak gunung dan disertai asap tebal.
Sebelumnya, aktivitas erupsi Gunung Semeru juga terjadi berulang kali sepanjang Juli.
Gunung Semeru memiliki sejarah erupsi yang panjang. Pada November 2025, aktivitas vulkanik Semeru juga meningkat hingga statusnya sempat berada pada Level IV atau Awas. Saat itu, luncuran awan panas tercatat mencapai jarak sekitar 13 kilometer dari puncak.
Semeru juga pernah mengalami erupsi besar pada 2021 yang disertai awan panas guguran. Pada periode tersebut, status gunung berada pada Level II atau Waspada.
Sebelumnya, erupsi juga terjadi pada 2020 yang disertai muntahan lava pijar dari kawah gunung.
Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan aktivitas vulkanik Semeru telah terjadi dalam rentang waktu yang panjang. Aktivitas secara beruntun tercatat pada periode 1945 hingga 1960 dan kembali terjadi pada 1978 hingga 1989. Aktivitas vulkanik juga tercatat beberapa kali sepanjang periode 1990 hingga 2008.
Kondisi tersebut membuat Semeru menjadi salah satu gunung api yang harus mendapatkan pemantauan secara berkelanjutan.
Gunung Anak Krakatau
Gunung api kelima adalah Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Gunung Anak Krakatau juga ditetapkan berada pada status Siaga Level III, menyusul aktivitas erupsi yang mulai terjadi pada Jumat, 4 September. Aktivitas erupsi dilaporkan masih berlanjut.
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari letusan besar Gunung Krakatau pada 1883.
Letusan Krakatau pada 1883 merupakan salah satu letusan gunung api paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Erupsi tersebut menyebabkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau runtuh dan kemudian melahirkan Gunung Anak Krakatau yang terus tumbuh di kawasan Selat Sunda.
Letusan Krakatau 1883 menghasilkan semburan material vulkanik yang sangat besar. Suara letusannya dilaporkan terdengar hingga ribuan kilometer dari pusat erupsi. Abu vulkanik juga menyebar dan memengaruhi atmosfer selama beberapa waktu setelah letusan.
Erupsi tersebut juga memicu tsunami besar yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatera. Gelombang tsunami diperkirakan mencapai ketinggian sekitar 30 meter di sejumlah wilayah.
Bencana itu menyebabkan lebih dari 36 ribu orang meninggal dunia dan menjadi salah satu letusan gunung api paling mematikan dalam sejarah.
Ancaman Gunung Anak Krakatau kembali terlihat pada Desember 2018. Aktivitas erupsi menyebabkan sebagian lereng gunung mengalami longsor dan masuk ke laut. Material longsoran tersebut kemudian memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.
Tsunami 2018 menyebabkan sedikitnya 430 orang meninggal dunia dan menimbulkan kerusakan di sejumlah kawasan pesisir.
Masyarakat Diminta Ikuti Informasi Resmi
Aktivitas lima gunung api tersebut kembali mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik tertinggi di dunia.
Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik membuat masyarakat di berbagai daerah hidup berdampingan dengan gunung api aktif.
Karena itu, peningkatan status gunung api harus menjadi perhatian bersama. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana diimbau untuk tidak mengabaikan rekomendasi dari petugas.
Warga juga diminta tidak memasuki zona yang telah ditetapkan sebagai kawasan berbahaya, terutama ketika aktivitas vulkanik mengalami peningkatan.
Selain itu, masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi PVMBG, Kementerian ESDM, BNPB, BPBD, maupun pemerintah daerah setempat.
Dengan pemantauan yang terus dilakukan dan kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi keselamatan, risiko yang ditimbulkan oleh aktivitas erupsi diharapkan dapat diminimalkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....