GKK 2026 Dimatangkan, Usung Konsep Kolaboratif dan Inklusif
- 21 Apr 2026 15:08 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Parekrafpora) Provinsi Gorontalo mulai mematangkan pelaksanaan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) Tahun 2026 melalui rapat keikutsertaan bersama para pemangku kepentingan. Rapat tersebut digelar di Aula Dinas Parekrafpora Provinsi Gorontalo, Selasa 21 April 2026, sebagai langkah awal menyusun konsep dan pelibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan event tahunan tersebut.
Kepala Dinas Parekrafpora Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menyampaikan GKK 2026 akan mengusung tema “Ritme Hulonthalo, Harmoni Jasmani Warisan Gorontalo” yang menggabungkan unsur budaya, ekonomi kreatif, pemuda, dan olahraga. Event ini dijadwalkan berlangsung pada 12–13 September 2026 mendatang.
“Rencana pelaksanaan Gorontalo Karval Karawo tahun 2026 ini pada bulan September ini, jadi masih ada waktu kurang lebih 4 bulan, maka kami mengundang dari awal teman-teman semua untuk kita sama-sama memberikan masukan, mengevaluasi dan format kita perbaiki pelaksanaan kita tingkatkan dan pesertanya kita perbanyak,” Ujar Sultan
Sejumlah inovasi disiapkan untuk membedakan GKK tahun ini, di antaranya Mokarawo kolosal yang melibatkan 100 pengrajin, pertunjukan musik tradisional kolosal, hingga Kue Karawo kolosal dari Desa Tanggilingo, Kabupaten Bone Bolango sebagai desa inovatif ekonomi kreatif.
Selain itu, penyelenggaraan GKK 2026 dirancang lebih kolaboratif dengan melibatkan pihak swasta dan perbankan sebagai pelaksana utama, sementara pemerintah daerah berperan sebagai pendukung. Event ini juga akan diintegrasikan dengan Hulonthalo Art and Craft Festival (HACF) serta Gorontalo Half Marathon (GHM).
Parekrafpora menargetkan 700 peserta karnaval, 75 booth UMKM, dan 45 ribu pengunjung. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas penyelenggaraan agar memberikan dampak nyata bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Gorontalo.
Sultan Kalupe mengatakan, dengan waktu persiapan sekitar empat bulan, pihaknya mengundang seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat sejak awal dalam memberikan masukan dan evaluasi.
Ia mengakui, berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan GKK masih memiliki sejumlah kekurangan, baik dari sisi keterlibatan masyarakat maupun dampak ekonomi yang dihasilkan.
Menurutnya, arahan gubernur juga menjadi perhatian penting, di mana pelaksanaan GKK dinilai masih terkesan elitis, belum membumi, serta belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan UMKM.
“Nah beberapa waktu lalu kami sudah bicara dengan teman-teman seniman, teman-teman Bank Indonesia kemudian sudah mendengar beberapa pasukan dari teman-teman OPD bahwa dari tahun ke tahun dievaluasi memang masih banyak kekurangan. Nah Pak Gubernur dalam satu kesempatan menyampaikan kepada kami bahwa pelaksanaan GKK ini kelihatan Elit, tidak membuming, tidak dirasakan oleh seluruh masyarakat, dampak ekonomi tidak begitu kelihatan, UMKM tidak hidup dan sebagainya,” tegasnya
Untuk itu, pada pelaksanaan tahun 2026, format kegiatan akan diubah menjadi lebih inklusif dengan melibatkan seluruh elemen, baik pemerintah, swasta, perguruan tinggi, hingga pelajar.
Melalui perubahan tersebut, diharapkan GKK tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar menjadi ruang kolaborasi yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dan memperkuat identitas budaya Gorontalo.
“Sehingga hari ini kami mengundang memang peserta banyak sekali perwakilannya sehingga untuk tahun ini formatnya kita akan berubah, jadi bukan lagi dari OPD yang menjadi pemeran utama di situ tetapi semua elemen, semua unsure baik Pemerintahan maupun swasta, perguruan tinggi dan sebagainya kita harapkan bisa ikut bahkan anak sekolah kita ikutkan,” Ucap Sultan Kalupe. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....