Waspada Tren “Sujud Freestyle” Anak
- 07 Mei 2026 19:33 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Fenomena “sujud freestyle” yang belakangan viral di media sosial menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan dan para orang tua. Aksi yang memperlihatkan gerakan akrobatik dengan kepala dan leher sebagai tumpuan itu dinilai berbahaya karena berisiko menimbulkan cedera serius pada anak-anak yang menirunya tanpa pengawasan.
Tren tersebut ramai ditiru anak usia sekolah dasar hingga remaja karena dianggap sebagai tantangan unik dan menghibur. Namun para pemerhati pendidikan dan kesehatan mengingatkan bahwa tekanan berlebih pada bagian kepala dan leher dapat memicu cedera tulang, gangguan saraf, bahkan kelumpuhan permanen jika dilakukan secara salah.
Peristiwa nyata dilaporkan terjadi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Seorang siswa kelas 4 di SDN 11 Biau mengalami cedera serius setelah diduga meniru gerakan “sujud freestyle”. Korban dikabarkan mengalami patah tangan dan harus menjalani perawatan medis di rumah sakit. Kasus ini menjadi alarm keras bagi masyarakat agar tidak menganggap tren tersebut sebagai permainan biasa.
Selain di Buol, laporan serupa juga muncul di sejumlah daerah lain di Indonesia. Beberapa sumber menyebut adanya korban anak-anak yang mengalami cedera berat hingga meninggal dunia akibat aktivitas berbahaya tersebut. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengaruh media sosial terhadap perilaku anak semakin kuat dan membutuhkan pengawasan serius dari lingkungan keluarga maupun sekolah.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga disebut mendorong pengawasan lebih ketat terhadap konten digital yang berpotensi membahayakan anak. Penguatan literasi digital dinilai penting agar anak mampu memilah tontonan yang aman dan tidak mudah mengikuti tren berisiko demi mendapatkan perhatian di media sosial.
Guru dan orang tua diimbau meningkatkan komunikasi dengan anak terkait penggunaan gadget dan aktivitas sehari-hari. Pengawasan tidak hanya berupa larangan, tetapi juga edukasi mengenai dampak buruk dari tindakan berbahaya. Anak perlu diberikan pemahaman bahwa tidak semua tren di internet aman untuk ditiru.
Sekolah juga memiliki peran penting dalam mencegah munculnya korban baru. Lingkungan pendidikan diharapkan aktif memberikan sosialisasi tentang keselamatan anak, termasuk bahaya tantangan ekstrem yang viral di media sosial. Pendampingan psikologis dan penguatan karakter dinilai dapat membantu anak lebih bijak dalam menyikapi tren digital.
Masyarakat pun diingatkan untuk tidak menyebarluaskan konten berbahaya tanpa edukasi yang tepat. Kesadaran bersama diperlukan agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan terlindungi dari pengaruh negatif dunia digital yang semakin masif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....