IGTKI-PGRI Kota Gorontalo Perkuat Peran Guru Tekan Anak Tidak Sekolah

  • 03 Okt 2026 16:31 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI)-PGRI Kota Gorontalo menggelar kegiatan bertema “Merajut Kebersamaan, Mempererat Silaturahmi Menuju Guru yang Ceria, Inovatif dan Berkarakter” di Villa D2 Uno, Desa Botubarani, Sabtu 3 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo Husin Ali, Ketua IGTKI Provinsi Gorontalo, serta seluruh guru TK se-Kota Gorontalo.

Selain menjadi ajang mempererat silaturahmi antar-guru, kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat sinergi antara IGTKI dan Pemerintah Kota Gorontalo dalam mendukung berbagai program pendidikan, termasuk upaya menekan angka anak tidak sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo Husin Ali mengatakan, saat ini masih terdapat sekitar 2.413 anak tidak sekolah di Kota Gorontalo. Pemerintah daerah bersama berbagai unsur terus melakukan langkah bersama untuk menemukan dan mendorong anak-anak tersebut kembali mendapatkan akses pendidikan.

“Di kota itu ada 2.413 angka anak tidak sekolah. Bersyukurnya kita, kita punya komitmen besar dari Pak Wali yang sudah mendorong semua kecamatan bergerak, semua kelurahan bergerak,” ujar Husin.

Menurut Husin, guru TK memiliki posisi strategis dalam membantu pemerintah menemukan anak yang belum bersekolah karena memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan orang tua.

“Kenapa lewat guru-guru TK? Karena guru-guru TK itu berada di garda terdepan, lebih dekat dengan masyarakat sekitar. Anak tidak sekolah itu cepat sekali kita deteksi kalau dia di lapangan,” katanya.

Husin meminta seluruh kepala TK dan guru TK ikut membantu Dinas Pendidikan dalam melakukan pendataan terhadap anak yang belum mendapatkan pendidikan.

Ia menilai, data yang dimiliki pemerintah perlu terus disesuaikan dengan kondisi di lapangan agar penanganan anak tidak sekolah dapat dilakukan secara tepat.

“Karena data bisa saja bicara lain dan lapangan juga bisa bicara lain. Mudah-mudahan langkah-langkah ini akan membuat kita lebih cepat menurunkan angka anak tidak sekolah di Kota Gorontalo,” jelasnya.

Husin mengatakan, persoalan anak tidak sekolah tidak hanya disebabkan satu faktor. Kondisi ekonomi keluarga, keinginan anak untuk segera bekerja, persoalan keluarga, serta persoalan pendataan menjadi sejumlah faktor yang perlu mendapat perhatian.

“Kita tentu mengkhawatirkan ini masa depan negara, kalau misalnya anak tidak sekolah makin naik. Kita tahu di zaman sekarang mendorong anak untuk sekolah itu butuh kebersamaan, butuh kerja bareng,” ungkap Husin.

Karena itu, Dinas Pendidikan mendorong seluruh satuan pendidikan untuk ikut berperan dalam mengampanyekan pentingnya pendidikan kepada masyarakat, terutama kepada orang tua.

Husin juga menyebut guru TK merupakan pihak yang memiliki kedekatan dengan orang tua sehingga diharapkan dapat membantu menyampaikan pentingnya pendidikan sejak usia dini.

“Sangat kita harapkan. Karena yang paling dekat dengan orang tua ya guru-guru TK,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua IGTKI-PGRI Kota Gorontalo Isnawati Lasimpala mengatakan, pihaknya siap mendukung program Pemerintah Kota Gorontalo dalam menekan angka anak tidak sekolah melalui pendidikan anak usia dini.

Menurut Isnawati, masih terdapat orang tua yang menganggap pendidikan TK belum menjadi kebutuhan utama bagi anak. Padahal, pendidikan pada usia dini menjadi salah satu tahapan penting sebelum anak memasuki sekolah dasar.

“Kita di Taman Kanak-Kanak itu kan umumnya ada anak-anak yang orang tuanya berpikir bahwa di TK itu tidak perlu. Tetapi di Kota Gorontalo itu sudah ada yang namanya perwako yang mengatakan bahwa anak yang pindah ke sekolah dasar itu minimal satu tahun di Taman Kanak-Kanak,” kata Isnawati.

Ia mengatakan, seluruh anggota IGTKI, khususnya guru TK di Kota Gorontalo, terus melakukan sosialisasi kepada orang tua mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini.

“Kita semua menggerakkan itu karena memang kami itu selalu memberikan sosialisasi kepada orang tua murid bahwa anak TK itu dari usia 4 tahun sampai usia 6 tahun,” jelasnya.

Isnawati menjelaskan, anak usia empat hingga enam tahun dapat mengikuti pendidikan TK selama dua tahun. Sementara anak yang belum memasuki usia TK dapat mengikuti kelompok bermain.

“Jadi 3-4 tahun kelompok bermain, 4-6 tahun itu di Taman Kanak-Kanak. Alhamdulillah sudah ada karena banyaknya sekolah yang ada di Kota Gorontalo ini,” ujarnya.

Selain membahas peran guru dalam mendukung program pendidikan, kegiatan IGTKI-PGRI Kota Gorontalo tersebut juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan antar-guru.

Seluruh guru TK dari berbagai kecamatan di Kota Gorontalo mengikuti rangkaian kegiatan yang turut dimeriahkan dengan sejumlah lomba antar-guru TK.

Melalui kegiatan tersebut, IGTKI-PGRI Kota Gorontalo mendorong para guru untuk tidak hanya memiliki kompetensi dalam mendidik, tetapi juga mampu menjadi guru yang ceria, inovatif dan berkarakter.

Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara guru, organisasi profesi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini sekaligus mendukung upaya menekan angka anak tidak sekolah di Kota Gorontalo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....