Tanam 3.000 mangrove, Warga Bajo Integrasikan Mangrove dan Budidaya Kepiting
- 28 Jul 2026 09:42 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo — Sebanyak 3.000 bibit mangrove ditanam di Desa Torosiaje Jaya, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng alami pesisir, habitat keanekaragaman hayati, sekaligus sumber penghidupan masyarakat warga Bajo serumpun.
Penanaman mangrove terlaksana atas dukungan Burung Indonesia, BPDAS Bone Limboto, Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), serta partisipasi aktif masyarakat pelestari mangrove Suku Bajo Tiga Serumpun, yang meliputi masyarakat Torosiaje Laut, Torosiaje Jaya, dan Bumi Bahari.
Dalam rangkaian kegiatan ini, dikembangkan pula inisiatif adopsi mangrove yang diintegrasikan dengan pengembangan budidaya kepiting. Model ini diharapkan dapat menjadi pendekatan konservasi yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat.
Melalui skema adopsi, masyarakat dan para pihak dapat terlibat dalam menjaga, memelihara, dan memantau pertumbuhan mangrove, sementara kawasan mangrove yang sesuai dikembangkan sebagai habitat dan ruang pendukung bagi budidaya kepiting yang ramah lingkungan.
Integrasi antara pelestarian mangrove dan budidaya kepiting diharapkan dapat mendorong lahirnya model ekonomi biru berbasis masyarakat, di mana ekosistem tetap dijaga dan pada saat yang sama masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
“Pendekatan ini juga memperkuat hubungan antara konservasi ekosistem pesisir, ketahanan pangan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Marahalim Siagian, Gorontalo Program Coordinator Burung Indonesia, Senin (27/7/2026).
menurut Marahalim penanaman mangrove ini tidak hanya dimaknai sebagai aksi penanaman pohon, tetapi juga sebagai bentuk kolaborasi multipihak dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir dan laut. Mangrove memiliki peran penting dalam melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota laut, menyimpan karbon, serta mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Keterlibatan masyarakat Suku Bajo Tiga Serumpun menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Pengetahuan lokal dan kearifan tradisional masyarakat Bajo dalam memanfaatkan dan menjaga sumber daya pesisir merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam upaya pelestarian mangrove. Dengan demikian, konservasi mangrove tidak hanya bertumpu pada penanaman, tetapi juga pada penguatan peran masyarakat sebagai penjaga ekosistem pesisir.
Melalui penanaman 3.000 mangrove dan pengembangan skema adopsi mangrove yang terintegrasi dengan budidaya kepiting, para pihak berharap dapat membangun model pengelolaan pesisir yang lestari, produktif, dan inklusif.
Keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga oleh keberlanjutan pemeliharaan, perlindungan, pemantauan, dan manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata untuk membangun Desa Pesisir yang Tangguh, Mangrove yang Lestari, dan Masyarakat yang Sejahtera, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, kelompok masyarakat, dan komunitas lokal dalam menjaga ekosistem pesisir Teluk Tomini," kata Bontor Lumbantobing Kepala Balai Pengengelolaan Sungai Bone-Limboto. (mcgorontaloprov)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....