Ekonom UNG, Ingatkan Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan Ancam Ekonomi Gorontalo
- 15 Jul 2026 13:41 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Di tengah perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik yang berkepanjangan, serta stagnansi ekonomi nasional, Provinsi Gorontalo justru menunjukkan kinerja ekonomi yang relatif menggembirakan.Pertumbuhan ekonomi Gorontalo sepanjang tahun 2025 hingga semester pertama tahun 2026 tetap berada pada jalur Positif. Namun ancaman inflasi pangan dinilai tetap menjadi persoalan serius yang harus diantisipasi. Kenaikan harga bahan pangan tidak hanya berdampak pada masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga dapat melemahkan daya beli, mengganggu kesejahteraan rumah tangga, hingga menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Ekonom Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sekaligus Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Gorontalo, Herwin Mopangga, mengatakan kinerja ekonomi Gorontalo sejauh ini cukup menggembirakan meski dunia dihadapkan pada perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik yang berkepanjangan, dan stagnansi ekonomi nasional. Menurutnya, peningkatan ekspor jagung, produk perikanan, kelapa beserta turunannya, hingga wood pellet menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun, Herwin mengingatkan bahwa persoalan inflasi pangan masih menjadi tantangan utama. Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 1 Juli 2026, inflasi Gorontalo masih didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Dalam beberapa tahun terakhir, komoditas seperti beras, cabai rawit, bawang merah, tomat, minyak goreng, telur ayam ras, dan ikan segar menjadi penyumbang utama gejolak harga.
"Inflasi pangan merupakan ancaman langsung terhadap daya beli masyarakat, tingkat kesejahteraan rumah tangga, dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. Persoalan ini jauh lebih serius daripada sekadar kenaikan harga beberapa komoditas di pasar," kata Herwin.
Menurutnya, struktur inflasi Gorontalo masih sangat dipengaruhi faktor pasokan (supply side inflation). Tekanan harga terjadi ketika pasokan menurun, sementara permintaan tetap tinggi, terutama pada komoditas pangan strategis. Kondisi tersebut diperparah dengan musim kemarau yang mulai memengaruhi sentra-sentra produksi pertanian di sejumlah kabupaten di Gorontalo.
Herwin menjelaskan, sejumlah petani di Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango mulai menunda masa tanam akibat berkurangnya debit air irigasi dan meningkatnya ketidakpastian cuaca. Jika kondisi ini terus berlanjut, produksi pangan diperkirakan menurun dan memicu lonjakan harga dalam beberapa bulan ke depan.
"Pengalaman menunjukkan bahwa penurunan luas tanam hari ini sering kali berubah menjadi kenaikan harga pangan beberapa bulan kemudian. Ketika produksi menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, pasar akan merespons melalui kenaikan harga atau supply shock," ucapnya.
Ia menambahkan, dampak inflasi pangan paling besar dirasakan rumah tangga berpendapatan rendah dan kelompok kelas menengah. Sebab, sebagian besar pengeluaran mereka masih dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kondisi ini juga berpotensi menekan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi komponen terbesar pembentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Gorontalo.
Herwin menilai pengendalian inflasi pangan tidak cukup hanya mengandalkan operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah. Pemerintah daerah perlu memperkuat kapasitas produksi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, penyediaan benih unggul, serta penerapan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. Selain itu, sistem peringatan dini berbasis data juga perlu diperkuat agar pemerintah dapat mengantisipasi potensi lonjakan harga sejak dini.
Ia juga mendorong penguatan cadangan pangan daerah serta diversifikasi konsumsi pangan lokal seperti jagung, sagu, umbi-umbian, dan pisang untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas tertentu. Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi, tetapi juga kemampuan menjaga ketersediaan pasokan ketika terjadi gangguan produksi.
"Pengendalian inflasi pangan bukan hanya agenda menjaga stabilitas harga, tetapi juga strategi mempertahankan daya beli masyarakat dan kekuatan kelas menengah sebagai motor utama konsumsi domestik. Jika daya beli tetap terjaga, konsumsi rumah tangga akan terus tumbuh sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi Gorontalo menjadi lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan," tambahnya. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....