Ancaman Kerusakan Mangrove, Alarm bagi Masa Depan Pesisir Gorontalo

  • 04 Jun 2026 10:22 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Kondisi ekosistem mangrove di Provinsi Gorontalo mulai menjadi perhatian serius berbagai pihak. Kerusakan yang terjadi akibat alih fungsi lahan, penebangan, hingga pencemaran lingkungan dinilai dapat mengancam keberlanjutan kawasan pesisir dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Tenaga Ahli dalam Tim Kerja Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Gorontalo dari Pusat Kajian Ekologi Pesisir Berbasis Kearifan Lokal (PKEPKL) Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo, Abubakar Sidik Katili, mengatakan isu mangrove perlu mendapat perhatian luas karena memiliki peran strategis bagi lingkungan dan masyarakat.

Menurutnya, mangrove bukan sekadar vegetasi yang tumbuh di kawasan pesisir, melainkan benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi, gelombang, intrusi air laut, serta dampak perubahan iklim.

“Ketika mangrove rusak atau hilang, maka wilayah pesisir menjadi lebih rentan terhadap abrasi, banjir rob, dan kerusakan permukiman maupun lahan produktif masyarakat,” ujarnya.

Selain berfungsi sebagai pelindung pantai, mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut. Kawasan ini berperan sebagai tempat pemijahan, pembesaran, dan mencari makan bagi ikan, udang, kepiting, moluska, hingga berbagai jenis burung dan reptil.

Abubakar menjelaskan, kerusakan mangrove dapat berdampak langsung terhadap produktivitas sektor perikanan karena terganggunya siklus hidup berbagai biota yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Ia menyebut sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi mangrove semakin mengkhawatirkan, di antaranya alih fungsi lahan pesisir untuk tambak, permukiman, infrastruktur, dan kawasan wisata yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan. Selain itu, penebangan mangrove, pencemaran limbah domestik dan sampah plastik, serta lemahnya pengawasan juga menjadi penyebab utama degradasi kawasan mangrove.

Menurutnya, ancaman terhadap mangrove di Gorontalo harus menjadi perhatian bersama mengingat luasnya wilayah pesisir dan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya laut.

“Jika ekosistem mangrove terus mengalami degradasi, dampaknya bukan hanya ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Nelayan bisa kehilangan daerah tangkapan yang produktif dan masyarakat pesisir semakin rentan terhadap bencana,” katanya.

Abubakar menegaskan bahwa kerusakan mangrove tidak hanya berarti hilangnya pohon, tetapi juga hilangnya berbagai fungsi ekosistem yang menopang kehidupan pesisir. Karena itu, upaya penyelamatan mangrove harus dilakukan secara terpadu melalui perlindungan kawasan yang masih baik, rehabilitasi berbasis kajian ilmiah, serta pelibatan aktif masyarakat pesisir.

Ia juga mendorong pemerintah daerah memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak kawasan mangrove. Selain itu, perguruan tinggi, media, lembaga swadaya masyarakat, komunitas lingkungan, dan dunia usaha diharapkan turut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Abubakar menilai rehabilitasi mangrove tidak boleh hanya bersifat seremonial, melainkan harus didasarkan pada kajian ekologis yang mempertimbangkan kondisi lokasi, jenis mangrove, pasang surut, hingga tingkat salinitas agar tingkat keberhasilannya tinggi.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga kawasan mangrove dengan tidak melakukan penebangan sembarangan, tidak membuang sampah ke sungai dan laut, serta mendukung berbagai kegiatan rehabilitasi dan pengawasan lingkungan.

“Kondisi mangrove Gorontalo yang mulai mengkhawatirkan harus menjadi alarm bersama. Upaya penyelamatan harus dimulai sekarang melalui perlindungan, rehabilitasi berbasis ilmu pengetahuan, penguatan peran masyarakat, penegakan aturan, serta kolaborasi lintas sektor,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....