Lahan Menyusut, Ketahanan Pangan Kota Gorontalo Hadapi Tantangan
- 04 Mei 2026 20:58 WIB
- Gorontalo
RRI. CO. ID Gorontalo: Kondisi lahan pertanian di Kota Gorontalo dari tahun ke tahun terus mengalami penyusutan. Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan pusat jasa menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya area tanam. Fenomena ini menjadi perhatian pemerintah daerah karena berdampak langsung pada kemampuan produksi pangan lokal, khususnya beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat.
Menurut Suhendry Yahya, selaku Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi pada Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Kota Gorontalo, dalam jangka pendek hingga menengah, ketersediaan beras masih tergolong aman. Pemerintah terus melakukan koordinasi intensif dengan Perum Bulog guna memastikan stok tetap terjaga dan distribusi berjalan lancar.
Namun demikian, jumlah penduduk yang mencapai sekitar 1.263.405 jiwa per April 2026 membuat kebutuhan beras di Kota Gorontalo cukup tinggi. Dari angka tersebut, produksi lokal belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Sebagai kota jasa sekaligus ibu kota provinsi, Gorontalo sangat bergantung pada pasokan dari daerah penyangga seperti Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo, bahkan dari luar provinsi seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.
Di sisi lain, seorang pemerhati pertanian yang telah terjun langsung di lapangan sejak 2017 menilai upaya peningkatan produksi pangan hingga kini belum menunjukkan perubahan signifikan. Produksi beras masih tergolong rendah, baik di Kota Gorontalo maupun wilayah sekitarnya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak, terutama dalam memaksimalkan hasil di tengah keterbatasan lahan yang ada.
Berbagai kendala turut dihadapi petani, terutama dari sisi sumber daya manusia. Masih banyak petani yang membutuhkan peningkatan wawasan dan edukasi terkait teknik pertanian modern. Selain itu, faktor usia juga memengaruhi kemampuan mereka dalam menerima dan menerapkan teknologi baru. Oleh karena itu, keberadaan demplot atau lahan percontohan dinilai penting agar petani dapat belajar langsung dari praktik di lapangan.
Kondisi petani saat ini juga didominasi oleh petani penggarap dengan luas lahan yang terbatas. Situasi ini dinilai cukup memprihatinkan karena berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan petani. Meski demikian, semangat untuk bertahan dan berinovasi tetap harus dijaga. Diversifikasi pangan menjadi salah satu solusi penting agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada beras, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber pangan lokal lainnya yang lebih beragam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....