Pawai Obor dan Kolak Ubi, Tradisi Ramadan yang Terus Bersinar

  • 09 Mar 2026 11:18 WIB
  •  Gorontalo

RRI. CO. ID Gorontalo: Tradisi Pawai Obor dan pembagian Kolak Ubi kembali mewarnai suasana Ramadan di Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Festival yang sarat makna budaya dan religius ini digelar untuk menghidupkan kembali tradisi masyarakat Gorontalo tempo dulu yang menggunakan obor sebagai penerang saat berjalan menuju masjid untuk menunaikan salat Tarawih.

Pada masa sebelum listrik menjangkau perkampungan, obor menjadi sumber cahaya yang menemani langkah warga dan para pemuda menuju rumah ibadah. Kini, tradisi tersebut dihidupkan kembali dalam bentuk festival yang juga diselaraskan dengan peringatan Nuzulul Quran. Nyala obor di tengah malam Ramadan melambangkan cahaya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup yang menerangi jalan umat manusia menuju kebenaran.

Pelaksanaan festival ini telah memasuki tahun kelima sejak pertama kali digelar secara terorganisir. Panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi dan kearifan lokal, tetapi juga menjadi wadah mempererat silaturahmi antarwarga serta menumbuhkan semangat gotong royong di tengah masyarakat selama bulan suci Ramadan.

Antusiasme masyarakat terhadap festival ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada pelaksanaan sebelumnya di kawasan Taman Merah Putih, jumlah warga yang hadir begitu membludak hingga petugas keamanan sempat kewalahan mengatur kerumunan. Hal ini menjadi bukti bahwa tradisi Pawai Obor dan Kolak Ubi sangat dicintai oleh masyarakat.

Festival tahun ini juga melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari peserta Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), siswa sekolah dasar dan menengah pertama se-Kecamatan Kota Barat, hingga Remaja Masjid se-Kota Gorontalo serta majelis taklim di wilayah tersebut. Keterlibatan anak-anak dan generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya regenerasi budaya agar tradisi daerah tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.

Selain pawai obor, panitia juga menyiapkan ratusan porsi kolak ubi yang akan dibagikan secara gratis kepada peserta dan masyarakat. Hidangan tradisional ini memiliki filosofi mendalam, di mana kata “kolak” dimaknai sebagai pengingat untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik, sementara ubi yang tumbuh di dalam tanah melambangkan sikap rendah hati. Melalui festival ini, panitia berharap tradisi lokal tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan yang memperkuat ukhuwah Islamiyah serta menambah semarak syiar Ramadan di tengah masyarakat Kota Gorontalo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....