Makna Sosial Dibalik Sapaan Goorontalo

  • 31 Jan 2026 13:25 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Bahasa dalam kehidupan masyarakat Gorontalo tidak sekadar menjadi alat komunikasi, melainkan juga mencerminkan nilai sosial dan budaya yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Salah satu bentuk nyata dari kekayaan budaya tersebut adalah sapaan adat atau Toli, sebuah tradisi lisan yang mengandung makna keakraban, penghormatan, dan kedekatan emosional antarindividu.

Hal ini mengemuka dalam dialog “Tamu Kita RRI Gorontalo yang disiarkan pagi tadi pukul 09.00 WITA melalui Programa 1 dan Pro 4 RRI Gorontalo, dengan menghadirkan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kota Gorontalo, Misnawaty S. Nuna, sebagai narasumber.

Dalam dialog tersebut, Dr. Misnawaty menjelaskan bahwa sapaan sayang seperti Nou, Uti, Ti Kaka, dan Timbi bukan sekadar panggilan, tetapi menjadi cara masyarakat Gorontalo menegaskan hubungan sosial tanpa harus menyebut nama kecil secara langsung. Praktik ini mencerminkan etika, kesantunan, serta penghormatan terhadap lawan bicara.

Sapaan Toli mengajarkan kita untuk saling menghormati, terutama kepada orang yang lebih tua atau memiliki peran tertentu dalam keluarga dan masyarakat. Ini adalah nilai luhur yang harus terus dijaga, ujar Dr. Misnawaty.

Ia menambahkan, Penggunaan kata Toli tidak berdiri sendiri, melainkan melekat erat pada struktur sosial masyarakat Gorontalo yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, hierarki usia, serta penghormatan terhadap peran sosial. Istilah seperti Ti Om dan Ti Tante menunjukkan adanya pengaruh sejarah dan interaksi budaya, sementara sapaan lokal seperti Toli’ango menandakan kehangatan relasi personal yang khas.

Lebih jauh, Dr. Misnawaty menekankan bahwa bahasa juga menjadi pengikat solidaritas sosial. Konsep Huyula yang berarti gotong royong, serta ungkapan Odu’olo sebagai bentuk terima kasih, memperkuat bahwa bahasa Gorontalo tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari dan paggilan sayang di masyarakat Gorontalo ini jangan sampai hilang.

Namun, di tengah arus globalisasi dan perubahan pola komunikasi modern, keberadaan sapaan sayang dengan menggunakan bahasa Gorontalo ini menghadapi tantangan serius. Generasi muda kini semakin akrab dengan bahasa populer dan sapaan universal yang berpotensi menggeser tradisi lokal.

“Jika tidak diwariskan secara sadar melalui keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial, kita khawatir nilai-nilai luhur ini perlahan akan hilang,” ungkapnya.

Meski demikian, Dr. Misnawaty optimistis bahwa Toli tetap dapat bertahan sebagai identitas budaya Gorontalo selama masyarakat memiliki komitmen untuk melestarikannya. Tradisi ini bukan hanya soal panggilan, tetapi juga tentang cara masyarakat Gorontalo memaknai hubungan antarmanusia, rasa hormat, dan kebersamaan dalam bingkai adat yang diharapkan tidak hilang di tengah masyarakat Gorontalo.

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-font-kerning:1.0pt; mso-ligatures:standardcontextual; mso-fareast-language:EN-US;}

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....