Perkembagan Zaman Tradisi Tumbolitohe Memasuki Masa Transformasi

  • 27 Jan 2026 14:37 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Tumbilotohe salah satu tradisi Masyarakat Gorontalo yang di laksanakan pada bulan Ramadhan. Namun diera perkembangan zaman, tradisi Masyarakat Gorontalo ini telah memasuki masa Transformasi. 

Festiva kai ini mengusung konsep ramah lingkungan. Sekaligus memperkuat identitas Gorontalo sebagai destinasi wisata religi (religious tourism) yang berkelanjutan.

Tumbilotohe dilaksanakan 14–16 Maret 2026, bertepatan dengan malam ke-27, 28, dan 29 Ramadan, atau tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri.

Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi kreatif pemuda dan olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menegaskan bahwa konsep hijau menjadi strategi utama festival ini.

“Penggunaan minyak tanah dan lampu listrik ditekan, diganti bahan bakar bebas emisi serta material yang dapat didaur ulang. Tradisi tetap hidup, lingkungan terjaga, dan event semakin modern,” ujar Sultan Kalupe, Selasa 27 Januari 2026.

Wisata religi tetap menjadi roh utama festival ini. Aktivitas berbasis komunitas, pergerakan massal masyarakat, serta kunjungan wisatawan.

"Tumbolitohe ini juga memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Hotel, UMKM, transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif turut merasakan manfaat dari gelaran ini," katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Pariwisata Provinsi Gorontalo, Romi Moge, menjelaskan Festival Green Tumbilotohe diarahkan pada penggunaan lampu tradisional. 

Bahan bakar minyak berasal dari minyak kelapa atau minyak tanah. Lampu padamala menjadi simbol utama, sekaligus solusi ramah lingkungan,” ujar Romi.

"Green Tumbilotohe tidak sekadar festival budaya, tetapi juga menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung agenda lingkungan nasional dan internasional, ucapnya.

Tumbilotohe selama ini dikenal sebagai tradisi menyalakan lampu menjelang Idulfitri. Sarat makna spiritual, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Gorontalo. 

Cahaya lampu dimaknai sebagai penerang hati dan jalan menuju kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini juga dihadapkan pada tantangan baru, terutama konsumsi energi dan dampak lingkungan.

Masyarakat juga diarahkan untuk berpartisipasi melalui kreativitas berbasis daur ulang.  pemanfaatan bahan lokal, serta pengelolaan kawasan festival yang bersih dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, Tumbilotohe 2026 juga akan dikemas lebih kompetitif melalui format lomba. Menjadikannya magnet baru bagi wisatawan dan penggerak ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....