Air Mata Sang Maestro: Akhir Perjalanan Luka Modrić di Panggung Dunia
- 03 Jul 2026 09:17 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Toronto - Kekalahan tragis Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2026 bukan sekadar akhir dari turnamen bagi tim Vatreni, melainkan akhir dari sebuah era yang megah. Di Toronto, dunia sepak bola resmi menyaksikan runtuhnya panggung internasional bagi salah satu gelandang terbaik sepanjang masa: Luka Modrić.
Di usianya yang telah menyentuh 40 tahun, turnamen ini sejak awal sudah diprediksi menjadi The Last Dance atau tarian terakhir sang maestro. Namun, sepak bola sering kali tidak mengenal naskah dongeng yang indah. Meskipun fisiknya tak lagi muda, Modrić menunjukkan mengapa ia adalah jantung dan jiwa dari timnas Kroasia selama hampir dua dekade.
Bermain penuh selama 90 menit melawan Portugal yang dinamis, Modrić tetap menjadi distributor bola utama dan pengatur tempo permainan Kroasia, ia menolak untuk menyerah pada usia, ia bahkan rela diganjar kartu kuning pada menit ke-59 demi memutus serangan balik cepat Portugal.
Saat peluit panjang berbunyi, kamera langsung tertuju pada Modrić yang terduduk lesu di lapangan, menyembunyikan wajahnya yang sembap. Di sisi lain lapangan, rival lamanya, Cristiano Ronaldo, datang untuk memberikan pelukan hangat sebuah gestur respek antardua legenda terbesar di era modern.
Meskipun harus pulang lebih awal dan gagal mengulangi keajaiban menjadi finalis Piala Dunia 2018 atau peringkat ketiga di 2022, warisan Modrić tidak akan pernah luntur. Ia meninggalkan panggung Piala Dunia tidak dengan trofi berlapis emas, melainkan dengan rasa hormat yang mendalam dari seluruh pencinta sepak bola di seluruh dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....