Aloei Saboe, Sang Pengangkat Derajat Negeri
- 31 Agt 2026 12:28 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - GORONTALO – Tepat 31 Agustus menjadi momentum untuk mengenang wafatnya salah satu tokoh penting asal Gorontalo, Prof. Dr. dr. H. Aloei Saboe. Dokter, cendekiawan, akademisi sekaligus pejuang kemerdekaan itu meninggal dunia pada 31 Agustus 1987 di Bandung, Jawa Barat, dalam usia 75 tahun.
Semasa hidupnya, Aloei Saboe mengabdikan diri di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kiprahnya bahkan membuat dirinya dikenal sebagai “Dokter Pejuang”.
Menariknya, perjalanan Aloei Saboe menjadi seorang dokter juga tidak terlepas dari kegemarannya bermain bridge. Saat menempuh pendidikan kedokteran di Nederlandsch Indische Artsen School atau NIAS Surabaya, kemampuannya dalam olahraga tersebut mengantarkannya menjadi bagian dari tim bridge NIAS dan mengikuti kejuaraan bridge tingkat dunia pada 1935.
Prestasi tersebut turut membuka jalan baginya memperoleh beasiswa yang membantu meringankan biaya pendidikan kedokterannya pada masa itu. Dengan demikian, hobi yang ditekuninya justru menjadi salah satu jalan yang mendukung cita-citanya untuk menjadi seorang dokter.
Di bidang perjuangan, Aloei Saboe turut mengambil bagian dalam pergerakan kemerdekaan di Gorontalo. Pada 23 Januari 1942, ia bersama Nani Wartabone dan Koesno Danupoyo terlibat dalam perjuangan mengambil alih pemerintahan dari tangan Belanda. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Hari Patriotik 23 Januari 1942.
Pengabdiannya di bidang kesehatan juga sangat panjang. Ia memberikan perhatian besar terhadap pemberantasan penyakit kusta dan turut mendirikan rumah sakit khusus kusta di Kabila, Gorontalo. Di dunia pendidikan, ia kemudian dipercaya menduduki sejumlah posisi akademik, termasuk sebagai guru besar di Universitas Padjadjaran Bandung.
Aloei Saboe juga dikenal sebagai cendekiawan yang berusaha mempertemukan ilmu kedokteran dengan nilai-nilai keislaman. Salah satu karyanya yang dikenal adalah buku “Hikmah Kesehatan Dalam Sholat”, yang membahas manfaat gerakan salat dari perspektif kesehatan.
Atas jasa dan pengabdiannya, Aloei Saboe menerima sejumlah tanda jasa dari pemerintah, termasuk Bintang Gerilya. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama rumah sakit di Gorontalo sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasinya bagi masyarakat. atas perjuangan dan bakti luhurnya pada tanah leluhur, maka dr. Aloei Saboe pun akhirnya dianugerahi gelar adat Pulanga, "Ta Lo Tinepa Lipu" (Sang Pengangkat Derajat Negeri) dari Dewan Adat 5 Kerajaan (Pohala'a) di Gorontalo.
Kini, 39 tahun setelah wafatnya, jejak Aloei Saboe tetap menjadi bagian penting dari sejarah Gorontalo. Ia meninggalkan teladan bahwa pengabdian kepada bangsa dapat dilakukan melalui ilmu pengetahuan, pelayanan kesehatan, pendidikan, sekaligus perjuangan untuk kemerdekaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....