Penyebab Kematian Sutrimo Masih Jadi Teka-Teki

  • 24 Agt 2026 10:25 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Misteri mengenai penyebab meninggalnya Sutrimo menjadi perhatian publik setelah muncul berbagai dugaan di media sosial. Sejumlah narasi bahkan mengaitkan kematian tersebut dengan dugaan keracunan.

Dilansir dari Rekamfakta.com Rahmad media, di tengah beragam spekulasi tersebut, sejumlah pihak mengingatkan pentingnya melihat kronologi dan kondisi medis almarhum secara utuh sebelum menarik kesimpulan.

Seorang narasumber yang mengetahui informasi terkait kondisi medis Sutrimo dan meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, riwayat penyakit serta gejala yang muncul sebelum korban kehilangan kesadaran merupakan bagian penting dalam membaca sebuah kasus kematian.

“Kalau seseorang memiliki riwayat diabetes, kemudian mengalami lemas berat, menggigil, penurunan kesadaran dan kejang, salah satu kondisi medis yang perlu dipertimbangkan adalah hipoglikemia berat. Tetapi tentu saja itu bukan berarti kita boleh langsung menyatakan sebagai penyebab kematian tanpa pemeriksaan resmi,” ungkapnya.

Hipoglikemia berat merupakan kondisi ketika kadar gula darah turun sangat rendah sehingga dapat mengganggu fungsi otak. Dalam kondisi berat, seseorang dapat mengalami kebingungan, kehilangan kesadaran hingga kejang.

Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan hilangnya kemampuan seseorang untuk mengendalikan refleks secara normal. Karena itu, menurut narasumber, munculnya busa di mulut juga tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda keracunan.

“Busa bisa muncul dalam berbagai keadaan medis. Jadi tidak tepat apabila busa dijadikan satu-satunya dasar untuk mengatakan seseorang telah diracun,” ujarnya.

Informasi mengenai kronologi Sutrimo juga menjadi perhatian. Sekitar pukul 01.00 WIB, almarhum disebut masih melakukan aktivitas secara normal. Ia mengendarai sepeda motor, membeli makanan, kemudian minum kopi dan mengonsumsi suplemen.

Sekitar pukul 02.00 WIB, kondisi tubuhnya mulai terasa lemas dan ia memilih beristirahat. Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 05.30 WIB, Sutrimo disebut masih sadar dan bahkan sempat meminta pertolongan kepada petugas keamanan karena mengalami lemas luar biasa dan menggigil.

Setelah itu, kondisinya memburuk hingga ditemukan dalam keadaan kritis dan mengalami kejang.

Rangkaian tersebut, menurut narasumber, perlu dianalisis oleh tenaga medis dan ahli forensik bersama dengan seluruh hasil pemeriksaan lainnya. Ia juga mengingatkan bahwa anggapan mengenai “racun yang bekerja cepat” tidak bisa digunakan secara sederhana untuk menentukan apakah seseorang diracun atau tidak.

“Setiap zat memiliki mekanisme, dosis, rute paparan dan karakteristik toksikologi yang berbeda. Karena itu, tidak boleh membuat kesimpulan hanya berdasarkan perkiraan waktu munculnya gejala,” tegasnya.

Narasumber menambahkan, apabila terdapat dugaan zat tertentu di dalam tubuh korban, pemeriksaan toksikologi menjadi penting untuk mengetahui jenis, kadar, serta relevansinya terhadap penyebab kematian.

Pada akhirnya, penyebab meninggalnya Sutrimo harus didasarkan pada bukti medis dan forensik, bukan pada spekulasi yang berkembang di media sosial.

“Publik tentu berhak mengetahui kebenaran. Tetapi kebenaran itu harus dibangun dari hasil pemeriksaan, bukan dari dugaan yang kemudian disebarkan sebagai fakta,” pungkasnya.

Hingga hasil pemeriksaan resmi diumumkan, berbagai dugaan terkait penyebab kematian Sutrimo masih belum dapat dipastikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....