Presiden Prabowo Sapa Sherly Tjoanda, Arena PENAS di Gorontalo Sorak Meriah
- 24 Jun 2026 14:03 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Riuh tepuk tangan dan sorakan ribuan peserta memecah suasana penutupan Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu 24 Juni 2026. Mengawali pidato Presiden RI Prabowo Subianto yang membahas ketahanan pangan nasional, sebuah momen spontan justru mencuri perhatian seluruh hadirin. Sejak pagi, kawasan utama PENAS dipadati petani, nelayan, penyuluh, pelaku usaha pangan, serta tamu undangan dari berbagai penjuru Indonesia. Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir mendampingi Presiden, mulai dari jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Kapolri, para gubernur, wakil gubernur, hingga bupati dan wakil bupati.
Namun suasana yang semula khidmat berubah menjadi lebih hangat ketika Presiden Prabowo menyapa satu per satu kepala daerah yang hadir di lokasi kegiatan.
Saat menyebut nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, reaksi peserta di luar dugaan langsung bergema memenuhi arena.
“Gubernur Maluku Utara saudari Sherly Tjoanda,” kata Presiden Prabowo disambut sorakan meriah peserta PENAS.
Belum sempat Presiden melanjutkan kalimatnya, sorakan dan tepuk tangan peserta langsung membahana dari berbagai sudut arena. Ribuan pasang mata tertuju ke arah tempat duduk Sherly Tjoanda.
Melihat respons meriah tersebut, Presiden Prabowo pun melontarkan candaan yang langsung disambut kemeriahan peserta.
“Seperti pemenang Piala Citra,” ucap Presiden dan kembali suasana pecah
Beberapa peserta terlihat berdiri sambil bertepuk tangan, sementara yang lain mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka. Suasana penutupan PENAS yang sebelumnya formal seketika berubah lebih cair dan penuh keakraban.
Di balik momen yang mengundang senyum itu, Presiden Prabowo tetap menegaskan pesan utama yang menjadi fokus pemerintah, yakni pentingnya menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, dunia saat ini tengah menghadapi ancaman krisis pangan yang harus diantisipasi sejak dini oleh seluruh negara, termasuk Indonesia.
Presiden menyampaikan bahwa berbagai capaian sektor pertanian dan perikanan yang diraih saat ini merupakan hasil kerja keras petani, nelayan, penyuluh, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat. Meski demikian, ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri dan tetap berani melakukan evaluasi terhadap berbagai kekurangan yang masih ada.
"Kita harus berani melihat dan memperbaiki kekurangan-kekurangan kita sendiri. Saya bersama tim berkomitmen penuh untuk menghentikan penjarahan kekayaan negara agar dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat," ujar Presiden Prabowo.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan sektor pertanian dan perikanan bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan konsistensi kebijakan, dukungan anggaran, serta keberanian melakukan pembenahan agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Menurut Presiden, tanda-tanda keberhasilan mulai terlihat melalui peningkatan produksi pangan nasional yang mengarah pada penguatan swasembada pangan. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan pangan di masa mendatang.
Penutupan PENAS XVII di Gorontalo akhirnya tidak hanya meninggalkan catatan tentang strategi ketahanan pangan nasional, tetapi juga menghadirkan momen ringan yang membekas di ingatan peserta. Di tengah pidato kenegaraan yang sarat pesan strategis, sapaan Presiden kepada Sherly Tjoanda menjadi warna tersendiri yang membuat arena PENAS bergemuruh oleh sorakan dan tepuk tangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....