Menteri Pertanian Amran Bawa Visi Pertanian Modern ke PENAS XVII Gorontalo
- 20 Jun 2026 09:23 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID Gorontalo — Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman membawa pesan transformasi pertanian berbasis teknologi saat membuka Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan di GOR David-Tony, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan ribuan petani dan nelayan, Amran menegaskan masa depan pertanian Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada cara-cara konvensional, tetapi harus bergerak menuju pertanian modern yang mengandalkan inovasi, mekanisasi, dan teknologi digital.
Menurut Amran, pemerintah tengah memperkenalkan konsep Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) sebagai langkah percepatan peningkatan produktivitas. Sistem tersebut merupakan perpaduan berbagai metode pertanian modern dari dalam dan luar negeri yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
“Ini adalah penemuan baru, ini adalah metode baru yang kami combine antara metode baru dari Indonesia dan kami temukan dari China kemudian di Amerika, ini kami coba memadukan,” ujar Amran.
Ia menjelaskan penerapan teknologi pertanian dilakukan melalui sejumlah strategi, mulai dari penggunaan bibit unggul, penguatan irigasi, mekanisasi alat pertanian hingga pola tanam yang lebih efisien. Dengan pendekatan tersebut, produktivitas padi di sejumlah lokasi mampu menembus lebih dari 10 ton per hektare, meningkat signifikan dibanding rata-rata nasional sekitar 5,5 ton per hektare.
Amran juga menyampaikan capaian sektor pangan nasional, di mana stok beras berada pada posisi tertinggi sepanjang sejarah. Tingginya cadangan tersebut membuat Perum Bulog perlu memperluas kapasitas penyimpanan melalui penambahan gudang.
Menurutnya, peningkatan produksi juga harus berjalan seiring dengan kesejahteraan petani. Pemerintah mencatat harga gabah yang sebelumnya berada di kisaran Rp5.000 per kilogram kini meningkat menjadi minimal Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) disebut mencapai level tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menekan biaya produksi dengan menurunkan harga pupuk subsidi sekitar 20 persen di tengah kenaikan harga pupuk global.
Melalui PENAS XVII, pemerintah berharap petani dan nelayan dapat menjadi bagian dari perubahan besar menuju sektor pertanian yang lebih produktif, mandiri, dan berbasis teknologi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....