Sate Pusut, Kuliner Khas Lombok yang Sarat Rempah dan Tradisi Sasak
- 11 Agt 2026 10:27 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID ,Gorontalo - Berkunjung ke Nusa Tenggara Barat tak lengkap tanpa menjelajahi kekayaan kulinernya. Pulau Lombok, khususnya, dikenal memiliki beragam hidangan tradisional yang mampu menggoda selera, mulai dari ayam taliwang hingga plecing kangkung.
Namun, di balik dua kuliner yang sudah lebih dulu populer, Lombok masih menyimpan banyak sajian khas yang tak kalah menarik untuk dicicipi. Salah satunya adalah sate pusut, kuliner tradisional yang lekat dengan kehidupan masyarakat Sasak.
Sekilas, sate pusut mengingatkan pada sate lilit dari Bali karena sama-sama menggunakan adonan daging yang dibentuk dan dililitkan pada tusukan. Meski memiliki kemiripan dari sisi penyajian, sate pusut mempunyai cita rasa, bahan, serta latar budaya yang khas Lombok.
Sate pusut pada dasarnya merupakan olahan daging yang dicincang atau diiris tipis, kemudian dicampurkan dengan kelapa parut dan racikan rempah.
Jenis daging yang digunakan cukup beragam. Masyarakat dapat mengolahnya menggunakan daging sapi, ayam, hingga ikan, tergantung bahan yang tersedia maupun tradisi di daerah masing-masing.
| Baca juga: Resep Es Palu Butung Khas Makassar |
Adonan tersebut kemudian dibentuk memanjang dan dililitkan atau dipadatkan pada bilah bambu maupun tusukan sate. Setelah itu, sate dipanggang di atas bara api hingga matang.
Proses sederhana tersebut justru menjadi salah satu daya tarik sate pusut. Ketika terkena panas bara, bumbu dan kelapa yang tercampur dalam adonan mengeluarkan aroma khas yang semakin menggugah selera.
Di tengah masyarakat Sasak, sate pusut bukan sekadar hidangan untuk mengenyangkan perut. Kuliner ini juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan sosial dan tradisi masyarakat Lombok.
Secara turun-temurun, sate pusut kerap disajikan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti upacara adat, hajatan, syukuran, maupun perayaan tertentu.
Proses menyiapkannya pun dapat menjadi bagian dari kebersamaan. Warga biasanya terlibat dalam mempersiapkan bahan, meracik bumbu, membentuk adonan, hingga memanggang sate.
| Baca juga: Sayur Lodeh Nangka yang Enak |
Dari sinilah sate pusut memiliki nilai lebih dari sekadar kuliner. Di balik seporsi sate, tersimpan gambaran tentang semangat kebersamaan dan gotong royong yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Nama "pusut" berkaitan dengan cara pengolahan sate tersebut, yakni adonan daging yang dipilin atau dililitkan pada tusukan sebelum dibakar.
Teknik ini menghasilkan bentuk sate yang berbeda dari sate pada umumnya. Adonan daging yang menempel pada tusukan terlihat padat dengan tekstur khas, sekaligus membuat bumbu lebih mudah menyatu dengan daging.
Keunikan bentuk tersebut menjadi salah satu ciri yang membuat sate pusut mudah dikenali.
Daya tarik utama sate pusut tentu saja terletak pada rasanya. Perpaduan daging, kelapa parut, dan bumbu rempah menciptakan cita rasa gurih dengan sentuhan pedas dan aroma rempah yang kuat.
Racikan bumbunya dapat menggunakan cabai, bawang putih, ketumbar, serta terasi yang sebelumnya dibakar untuk menghasilkan aroma dan rasa yang lebih kuat.
Daging yang dicincang atau dihaluskan membuat teksturnya relatif lembut ketika disantap. Sementara itu, kelapa parut memberikan rasa gurih sekaligus tekstur yang menjadi karakter tersendiri dari hidangan ini.
Aroma sate semakin menggoda ketika proses pembakaran berlangsung. Bara arang yang menyentuh permukaan adonan menghasilkan aroma asap yang berpadu dengan rempah dan kelapa.
Perpaduan tersebut membuat sate pusut bukan hanya menarik dari tampilannya, tetapi juga menghadirkan pengalaman rasa yang khas.
Kini, sate pusut tidak lagi hanya muncul dalam acara adat atau kegiatan masyarakat. Hidangan tradisional ini juga dapat ditemukan di sejumlah rumah makan yang menyajikan kuliner khas Lombok.
Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan kuliner daerah sekaligus salah satu cara masyarakat mempertahankan warisan budaya melalui makanan.
Bagi wisatawan yang datang ke Lombok, mencicipi sate pusut dapat menjadi pilihan untuk mengenal sisi lain kuliner Pulau Seribu Masjid. Sebab, di balik bumbu yang kaya dan aroma bakaran yang menggoda, tersimpan cerita tentang tradisi, kebersamaan, serta identitas masyarakat Sasak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....