Sejarah Gudeg dari Tanah Mataram

  • 10 Mei 2026 22:50 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya sekaligus surga kuliner tradisional. Dari sekian banyak makanan khas yang dimiliki daerah ini, gudeg menjadi salah satu hidangan paling ikonik dan melekat kuat dengan identitas masyarakat Jogja. Bahkan, Yogyakarta mendapat julukan sebagai “Kota Gudeg” karena popularitas kuliner berbahan dasar nangka muda tersebut yang sudah terkenal hingga mancanegara.

Gudeg memiliki cita rasa khas berupa perpaduan manis, gurih, dan legit yang sulit ditemukan pada masakan lain di Indonesia. Namun di balik kelezatannya, gudeg ternyata menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perjalanan budaya dan lahirnya Kerajaan Mataram Islam.

Dilansir dari okuliner.com, asal-usul gudeg dipercaya bermula pada abad ke-16 ketika kawasan Alas Mentaok mulai dibuka untuk pembangunan pusat Kerajaan Mataram Islam. Wilayah yang kini dikenal sebagai Kotagede saat itu masih berupa hutan lebat yang dipenuhi pohon nangka dan kelapa.

Para pekerja dan prajurit yang membuka kawasan tersebut kemudian memanfaatkan bahan makanan yang tersedia di sekitar hutan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Nangka muda atau yang dikenal dengan sebutan gori dipilih karena jumlahnya melimpah dan mudah diolah menjadi makanan.

Nangka muda kemudian dimasak dalam kuali besar bersama santan dan bumbu sederhana. Dari proses memasak inilah cikal bakal gudeg mulai dikenal masyarakat. Seiring perkembangan zaman, resep gudeg terus mengalami penyempurnaan hingga menghasilkan rasa khas seperti sekarang.

Penambahan gula jawa membuat rasa gudeg menjadi lebih manis dan legit, sementara penggunaan daun jati menghasilkan warna cokelat kemerahan yang menjadi ciri khas utama gudeg khas Jogja.

Nama gudeg sendiri berasal dari bahasa Jawa “hangudeg” atau “ngudheg” yang berarti mengaduk. Istilah tersebut merujuk pada proses memasak gudeg yang membutuhkan waktu lama dan harus terus diaduk agar santan tidak pecah serta masakan tidak gosong.

Proses memasak gudeg memang dikenal cukup panjang. Nangka muda dimasak perlahan menggunakan api kecil selama berjam-jam hingga teksturnya empuk dan bumbu meresap sempurna. Karena itulah, gudeg juga sering dimaknai sebagai simbol kesabaran dan ketelatenan dalam budaya Jawa.

Bagi masyarakat Yogyakarta, gudeg bukan sekadar makanan tradisional. Kuliner ini juga memiliki filosofi mendalam tentang kebersamaan dan gotong royong. Pada masa dahulu, gudeg dimasak bersama-sama dalam kuali besar untuk memenuhi kebutuhan banyak orang, terutama para pekerja kerajaan.

Nilai kebersamaan tersebut dianggap mencerminkan karakter masyarakat Jawa yang dikenal ramah, tenang, dan penuh kesabaran. Filosofi itulah yang membuat gudeg tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat hingga sekarang.

Popularitas gudeg terus berkembang dari generasi ke generasi. Pada era 1960-an, kawasan Wijilan di Yogyakarta mulai dikenal luas sebagai sentra penjualan gudeg. Hingga kini, kawasan tersebut masih menjadi tujuan wisata kuliner favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati gudeg autentik khas Jogja.

Di sepanjang Jalan Wijilan, berdiri banyak warung gudeg legendaris yang mempertahankan resep turun-temurun selama puluhan tahun. Kehadiran warung-warung tersebut semakin mengukuhkan gudeg sebagai bagian penting dari identitas budaya Yogyakarta.

Secara umum, gudeg terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah biasanya disajikan dengan kuah santan atau areh yang cukup banyak sehingga teksturnya lebih lembut dan gurih manis.

Sementara gudeg kering dimasak lebih lama hingga kadar airnya berkurang. Rasanya lebih pekat dan memiliki daya tahan lebih lama sehingga sering dijadikan oleh-oleh khas Yogyakarta.

Kedua jenis gudeg tersebut umumnya disajikan bersama nasi, ayam kampung, telur bacem, tahu, tempe, dan sambal goreng krecek yang memiliki cita rasa pedas gurih.

Salah satu keunikan gudeg terletak pada warna cokelat kemerahannya yang alami. Warna tersebut berasal dari daun jati yang dimasak bersama nangka muda, bukan dari pewarna buatan. Sedangkan rasa manis khas gudeg berasal dari penggunaan gula jawa dalam jumlah cukup banyak.

Meski tren kuliner modern terus berkembang, gudeg tetap mampu bertahan lintas zaman. Berbagai inovasi seperti gudeg kalengan hingga gudeg frozen kini mulai bermunculan agar makanan khas ini dapat dinikmati masyarakat di berbagai daerah.

Namun di balik berbagai inovasi tersebut, cita rasa autentik gudeg tradisional tetap menjadi favorit banyak orang. Bagi masyarakat Yogyakarta, gudeg bukan hanya sekadar makanan khas daerah, tetapi juga simbol sejarah, budaya, dan identitas kota yang terus hidup hingga hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....