Yuk Mengenal si Maman Lanang
- 21 Jul 2024 20:36 WIB
- Gorontalo
KBRN,Gorontalo : Mendengar namanya, mungkin kita bertanya-tanya, pemuda asal mana ini? Jangan salah, Maman Lanang bukanlah manusia, melainkan jenis tumbuhan liar yang sering dijumpai di sekitar kita. Tanaman ini banyak ditemukan di pinggir jalan, sawah, ladang perkebunan warga, dan bahkan sebagai epifit pada batu dan kayu. Habitatnya tersebar luas terutama di Jawa dan Kalimantan.
Maman Lanang tumbuh tegak, merambat, atau merangkak dengan tinggi 0,15 hingga 0,80 meter, dan berbunga sepanjang tahun. Daun mahkota bunganya memiliki ujung runcing seperti cakar dengan panjang 9-12 mm, berwarna biru di Jawa, dan disertai bulu-bulu halus yang pendek. Tangkai buahnya sepanjang 20-30 mm, dan batangnya yang berbentuk kapsul meruncing seperti paruh saat masak. Diameter bijinya sekitar 1,75-2 mm dengan elaiosom keputihan. Daun biasanya berjumlah tiga, berbentuk memanjang atau bulat memanjang, dan batangnya memiliki duri tipis dengan panjang 0,5-2 cm.
Menurut laman Wikipedia, Maman Lanang (Cleome rutidosperma) merupakan anggota famili Cleomaceae yang mengandung tioglukosida, atau glukosinolat, yang dapat melepaskan isotiosianat saat tanaman dihancurkan. Selain itu, tanaman ini juga mengandung alkaloid dan flavonoid yang jenisnya belum diketahui. Pustaka maupun penelitian ilmiah mengenai khasiat tanaman ini masih sangat terbatas, dan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitasnya belum diketahui dengan pasti. Namun, Cleome rutidosperma diketahui memiliki potensi sebagai antifeedant (pengganti herbisida) untuk hama tanaman Brassica, yakni jenis Plutella xylostella. Minyak menguapnya memiliki aktivitas yang dapat mengiritasi kulit dan mungkin juga kontak alergenik.
Walaupun penelitian mengenai tanaman ini masih terbatas, Maman Lanang ternyata mengandung senyawa potensial antikanker, seperti alkaloida dan flavonoida. Kedua senyawa ini berpotensi sebagai regulator negatif onkogen (kelompok gen pengatur daur sel) dan regulator positif gen tumor suppressor, sehingga memiliki potensi sebagai anti-kanker.
Pada tahun 2022, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat di Puskesmas Sedinginan, Kabupaten Rokan Hilir, yang dilakukan oleh Prodi DIII Gizi, Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Riau, Indonesia, mengedukasi masyarakat tentang manfaat tumbuhan maman ini dan mengajarkan variasi resep dari bahan maman ini.
Di Gorontalo, sebagian masyarakat telah lama menggunakan air seduhan daun maman untuk mengobati penglihatan yang mulai kabur. Hal ini menunjukkan potensi besar Maman Lanang dalam dunia kesehatan yang masih perlu diteliti lebih lanjut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....