Bahaya Kerokan saat Masuk Angin
- 20 Sep 2026 11:32 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Kerokan masih menjadi salah satu cara tradisional yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia ketika tubuh terasa pegal, meriang atau tidak enak badan. Sensasi hangat dan rasa lega setelah kerokan membuat sebagian orang menganggap cara tersebut dapat membantu “mengeluarkan angin” dari tubuh. Namun, perubahan warna kulit setelah kerokan sebenarnya memiliki penjelasan medis yang berbeda.
Secara ilmiah, warna merah hingga keunguan yang muncul setelah kulit digosok berkaitan dengan respons pembuluh darah kecil di bawah permukaan kulit. Penelitian mengenai gua sha, teknik tradisional Asia yang memiliki mekanisme gesekan pada kulit serupa dengan kerokan, menunjukkan bahwa tekanan dan gesekan dapat meningkatkan aliran darah lokal serta menimbulkan petechiae atau ecchymosis, yakni titik perdarahan kecil dan memar akibat keluarnya darah dari pembuluh darah kecil.
Warna merah cerah umumnya menunjukkan adanya pelebaran pembuluh darah dan reaksi kulit akibat gesekan. Sementara warna yang lebih gelap, merah keunguan, dapat terjadi ketika tekanan atau gesekan menyebabkan lebih banyak pembuluh kapiler mengalami kerusakan kecil sehingga darah masuk ke jaringan di bawah kulit. Karena itu, warna kerokan tidak dapat dijadikan ukuran banyak atau sedikitnya “angin” di dalam tubuh, maupun indikator bahwa penyakit seseorang semakin parah.
Anggapan bahwa semakin merah atau semakin gelap bekas kerokan berarti semakin banyak angin yang keluar merupakan mitos yang tidak memiliki dasar medis. Penjelasan yang didukung bukti ilmiah lebih berkaitan dengan perubahan mikrosirkulasi dan perdarahan kecil di bawah kulit. Bahkan, sebuah penelitian awal terhadap 11 orang sehat menemukan peningkatan mikrosirkulasi pada area yang mendapat perlakuan gua sha, tetapi penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa kerokan dapat mengeluarkan “angin” atau menyembuhkan penyakit tertentu.
Kerokan juga tidak sepenuhnya bebas risiko, terutama ketika dilakukan terlalu kuat, berulang pada area yang sama atau menggunakan alat yang tidak bersih. Sumber medis Cleveland Clinic menyebutkan bahwa teknik gua sha yang dilakukan terlalu agresif dapat menyebabkan nyeri otot, memar dan perubahan warna kulit. Literatur medis juga mencatat adanya potensi penularan infeksi apabila alat atau prosedur tidak memperhatikan kebersihan.
Karena itu, penggunaan pelumas seperti minyak dapat membantu mengurangi gesekan langsung pada kulit, sementara tekanan sebaiknya tidak dipaksakan hingga menimbulkan luka atau perdarahan. Kerokan juga sebaiknya tidak dilakukan pada kulit yang sedang mengalami luka, ruam, iritasi atau peradangan. Bagi orang yang memiliki gangguan pembekuan darah, masalah sirkulasi, atau menggunakan obat pengencer darah, konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan sebelum melakukan teknik yang dapat menyebabkan memar.
Soal manfaatnya, sejumlah penelitian kecil mengenai gua sha memang menemukan kemungkinan berkurangnya rasa nyeri setelah terapi, termasuk pada penelitian terhadap pasien dengan nyeri leher dan punggung. Namun, jumlah penelitian masih terbatas sehingga manfaat tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menganggap kerokan sebagai pengganti pengobatan medis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....