Vape Bukan Sekadar Uap tanpa Risiko
- 14 Sep 2026 12:50 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo — Rokok elektrik atau vape masih kerap dipandang sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Bahkan, sebagian orang menggunakannya sebagai bagian dari upaya mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok. Namun, vape tetap bukan produk yang bebas risiko bagi kesehatan, terutama terhadap sistem pernapasan.
Cairan vape atau e-liquid yang dipanaskan menghasilkan aerosol yang dapat membawa nikotin, partikel halus, serta berbagai bahan kimia masuk ke dalam saluran pernapasan. Karena itu, anggapan bahwa vape hanya menghasilkan “uap air” dan tidak berdampak terhadap paru-paru perlu diluruskan.
Salah satu persoalan utama adalah kandungan nikotin. Jumlah nikotin yang masuk ke tubuh dari vape sangat bergantung pada jenis perangkat, konsentrasi cairan, serta pola penggunaannya. Karena itu, tidak tepat menyamaratakan bahwa 30 kali hisapan vape selalu setara dengan satu batang rokok. Paparan nikotin tetap perlu menjadi perhatian karena dapat menyebabkan ketergantungan.
Selain nikotin, proses pemanasan cairan vape dapat menghasilkan atau membawa sejumlah senyawa yang berpotensi mengiritasi dan merusak saluran pernapasan. Beberapa produk perisa juga pernah dikaitkan dengan diacetyl, senyawa yang dalam paparan tertentu dapat menyebabkan kerusakan serius pada saluran udara kecil. Kondisi tersebut dikenal sebagai bronchiolitis obliterans atau yang populer disebut “popcorn lung”.
Risiko lain muncul dari bahan berbasis minyak atau senyawa tertentu yang dapat masuk ke paru-paru. Paparan tersebut dalam kondisi tertentu dapat dikaitkan dengan peradangan paru, termasuk pneumonia lipoid. Gejalanya dapat berupa batuk yang menetap, nyeri dada, maupun kesulitan bernapas sehingga membutuhkan pemeriksaan medis.
Senyawa seperti formaldehida dan akrolein juga dapat terbentuk dalam kondisi pemanasan tertentu. Keduanya dikenal sebagai bahan kimia yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Paparan aerosol vape secara berulang juga dapat memengaruhi fungsi paru dan kesehatan jangka panjang, meskipun besarnya risiko dapat berbeda berdasarkan perangkat, cairan, dan pola penggunaan.
Karena itu, masyarakat perlu melihat vape secara lebih realistis. Vape bukan berarti sama persis dengan rokok konvensional, tetapi bukan pula berarti aman sepenuhnya. Bagi orang yang tidak merokok, pilihan paling rendah risiko adalah tidak memulai penggunaan vape. Sementara bagi perokok yang ingin berhenti, pendekatan berhenti merokok yang terbukti efektif dan pendampingan tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan yang lebih tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....