Mengapa Musik Bisa Meredakan Stres di Otak? Ini Penjelasan Ilmiahnya
- 08 Sep 2026 11:47 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Musik membantu otak mengatur kembali respons setelah mengalami stres.
- Mendengarkan musik berkaitan dengan perubahan respons tubuh dan aktivitas saraf.
- Musik berpotensi menjadi cara sederhana untuk membantu pengelolaan stres sehari-hari.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Saat pikiran dipenuhi tekanan, banyak orang memilih mendengarkan musik untuk mencari ketenangan. Kebiasaan tersebut ternyata tidak hanya memperbaiki suasana hati, tetapi juga dapat memengaruhi cara otak merespons stres.
Stres membuat otak berada dalam kondisi siaga tinggi. Bahkan setelah situasi yang menekan berakhir, sistem tubuh dapat tetap mempertahankan respons tersebut melalui perubahan detak jantung, hormon, dan aktivitas saraf.
Musik selama ini dikenal mampu menghadirkan rasa nyaman bagi pendengarnya. Namun, pengaruh musik terhadap tubuh ternyata lebih kompleks karena melibatkan perubahan pada jalur saraf dan respons fisiologis yang berkaitan dengan stres.
Dilansir dari Scientific American, musik tidak hanya berfungsi sebagai pengalih perhatian dari tekanan. Alunan musik dapat membantu otak kembali menuju kondisi yang lebih tenang dengan mengubah komunikasi antarwilayah otak yang berkaitan dengan suara, stres, dan gairah.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan Yi Du dari Institut Ilmu Pengetahuan Tiongkok, Beijing, bersama timnya. Peneliti ingin melihat bagaimana musik memengaruhi otak setelah seseorang mengalami tekanan.
Dalam percobaan awal, para peneliti melibatkan dua kelompok peserta. Satu kelompok mendengarkan musik, sementara kelompok lain mendengarkan suara air dari alam setelah menjalani tugas matematika mental yang dirancang untuk memicu stres.
Respons tubuh peserta kemudian diamati melalui pengukuran detak jantung dan kadar kortisol dalam air liur. Peserta yang mendengarkan musik menunjukkan proses pemulihan stres yang lebih cepat.
Pada tahap berikutnya, peneliti menggunakan pemindaian otak fMRI untuk melihat perubahan aktivitas saraf. Hasilnya menunjukkan bahwa musik memperkuat jalur neuron tertentu yang menghubungkan area pemrosesan suara dengan wilayah otak yang berperan dalam mengatur stres.
Yi Du menjelaskan bahwa musik memiliki pengaruh berbeda dibandingkan suara menenangkan lainnya. Menurutnya, suara alam dapat memberikan latar yang nyaman, tetapi musik membawa otak melalui proses yang lebih terstruktur.
"Musik melakukan lebih dari sekadar menutupi stres atau mengalihkan perhatian kita darinya. Musik memberi otak jalur terstruktur untuk kembali ke keadaan yang lebih tenang," kata Yi Du.
Temuan ini sejalan dengan penelitian terbaru mengenai musik dan pemulihan stres. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology pada 2024 menguji pengaruh musik terhadap pemulihan stres dengan mengukur berbagai indikator biologis, termasuk kortisol, detak jantung, dan respons kulit.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa musik tetap menjadi bagian penting dalam kajian pemulihan stres, meskipun pengaruhnya dapat berbeda tergantung jenis musik, kondisi individu, dan metode pengukuran yang digunakan.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa penelitian mengenai musik dan stres masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Studi Yi Du hanya melibatkan orang dewasa muda yang sehat dengan kondisi stres jangka pendek, sehingga hasilnya belum dapat langsung diterapkan pada kelompok dengan stres kronis.
Peneliti juga menyebutkan bahwa musik yang digunakan dalam penelitian dipilih oleh peneliti. Musik yang disukai secara pribadi oleh seseorang kemungkinan dapat menghasilkan respons yang berbeda terhadap kondisi stres.
Musik akhirnya tidak hanya dipandang sebagai bagian dari hiburan, tetapi juga sebagai aktivitas yang berkaitan dengan proses biologis dan psikologis manusia. Mendengarkan musik dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu tubuh menghadapi tekanan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....