Kenali Gejala Usus Buntu yang Tak Boleh Diabaikan
- 30 Agt 2026 12:14 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo — Radang usus buntu atau apendisitis merupakan kondisi ketika apendiks, yaitu kantong kecil berbentuk seperti jari yang menempel pada bagian awal usus besar, mengalami peradangan. Kondisi ini dapat terjadi karena saluran apendiks tersumbat, sehingga bakteri berkembang dan memicu pembengkakan serta infeksi.
Gejala yang perlu dikenali antara lain mual dan muntah, perut terasa penuh atau membengkak, demam dan menggigil, tubuh lemas serta kehilangan nafsu makan. Keluhan lain dapat berupa sembelit atau diare, sulit buang angin, serta rasa tidak nyaman yang terasa membaik atau memburuk ketika buang air besar. Namun, tidak semua penderita mengalami seluruh gejala tersebut.
Salah satu tanda yang paling khas adalah nyeri perut. Pada banyak kasus, rasa sakit awalnya muncul di sekitar pusar kemudian berpindah ke bagian kanan bawah perut dan semakin berat dalam hitungan jam. Nyeri juga dapat bertambah ketika seseorang berjalan, batuk, bersin, atau menarik napas dalam.
Keluhan pencernaan seperti sulit buang gas, sembelit maupun diare juga dapat menyertai apendisitis. Rasa ingin buang air besar yang dianggap dapat meredakan nyeri pun bisa muncul. Sementara itu, buang air kecil yang lebih sering atau terasa sakit dapat terjadi pada sebagian kasus, tetapi keluhan tersebut bukan gejala utama dan bisa pula menunjukkan masalah saluran kemih lain.
Apendisitis memang lebih sering ditemukan pada anak berusia di atas 10 tahun, remaja dan dewasa muda, terutama kelompok usia 10–30 tahun. Data dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebut sekitar 5–9 dari setiap 100 orang dapat mengalami apendisitis dalam hidupnya. Meski demikian, penyakit ini tetap dapat menyerang orang pada usia berapa pun.
Diagnosis tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan gejala. Dokter biasanya menilai riwayat keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian dapat meminta pemeriksaan darah, urine, serta pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi, CT scan atau MRI. Pemeriksaan tersebut penting karena nyeri perut kanan bawah juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, termasuk batu ginjal, infeksi saluran kemih atau gangguan usus.
Apendisitis perlu mendapat penanganan medis segera karena apendiks yang meradang dan tidak ditangani dapat pecah atau mengalami perforasi. Kondisi tersebut bisa menyebabkan infeksi menyebar ke rongga perut atau peritonitis, pembentukan abses, bahkan sepsis yang mengancam nyawa. Karena itu, nyeri perut berat atau nyeri yang semakin memburuk sebaiknya tidak ditunda untuk diperiksakan.
Penanganan umumnya dilakukan dengan pemberian antibiotik dan operasi pengangkatan apendiks atau apendektomi, baik melalui teknik laparoskopi maupun operasi terbuka, sesuai kondisi pasien. Pada sebagian kasus apendisitis ringan, antibiotik saja dapat dipertimbangkan oleh dokter, tetapi operasi masih menjadi terapi standar. Masyarakat diimbau tidak mendiagnosis atau mengobati sendiri ketika muncul kombinasi nyeri perut, demam, mual-muntah, dan gangguan buang air besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....