Bukan Cuma Gula, Tiga Kebiasaan Ini Picu Risiko Diabetes

  • 30 Agt 2026 12:14 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Diabetes tipe 2 tidak hanya berkaitan dengan konsumsi makanan dan minuman manis. Pola tidur yang buruk, kebiasaan melewatkan sarapan, serta kurangnya aktivitas fisik juga perlu menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan kesehatan metabolisme dan risiko diabetes.

Kebiasaan sering tidur larut malam, terutama jika membuat seseorang kekurangan waktu tidur, dapat memengaruhi sensitivitas insulin. Meta-analisis terhadap 21 penelitian menunjukkan bahwa pembatasan waktu tidur dapat menurunkan sensitivitas insulin. Kajian tersebut juga menyebut durasi, kualitas dan waktu tidur berperan dalam fungsi metabolisme serta risiko diabetes tipe 2.

Namun, tidur larut malam tidak bisa langsung disebut sebagai penyebab seseorang terkena diabetes. Yang lebih perlu diperhatikan adalah kurang tidur secara terus-menerus dan kualitas tidur yang buruk. Meta-analisis terhadap 10 laporan penelitian dengan lebih dari 482 ribu peserta menemukan risiko diabetes tipe 2 paling rendah pada kelompok dengan durasi tidur sekitar 7–8 jam per hari.

Kebiasaan berikutnya adalah melewatkan sarapan. Penelitian tidak menunjukkan bahwa tidak sarapan secara langsung membuat pankreas rusak, tetapi terdapat hubungan antara kebiasaan tersebut dengan risiko diabetes tipe 2. Meta-analisis enam penelitian prospektif yang melibatkan 96.175 peserta menemukan bahwa orang yang terbiasa melewatkan sarapan memiliki risiko diabetes tipe 2 lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak melakukannya.

Karena itu, sarapan sebaiknya tidak sekadar diisi makanan tinggi gula atau karbohidrat olahan. Pilihan yang lebih baik adalah makanan dengan komposisi seimbang, seperti sumber protein, sayuran atau buah, serta sumber karbohidrat yang sesuai kebutuhan. Pola makan secara keseluruhan tetap lebih penting daripada menganggap satu waktu makan sebagai satu-satunya penentu risiko diabetes.

Kebiasaan ketiga yang tidak kalah penting adalah kurang bergerak. WHO menyebut aktivitas fisik rutin membantu mencegah dan mengelola berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes tipe 2. Untuk orang dewasa, WHO merekomendasikan sedikitnya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, atau sekitar 30 menit per hari selama lima hari.

Aktivitas fisik juga tidak selalu berarti harus berolahraga di pusat kebugaran. Berjalan kaki, bersepeda, melakukan pekerjaan rumah, atau aktivitas fisik saat bekerja juga termasuk gerakan tubuh yang memberikan manfaat kesehatan. WHO mencatat aktivitas fisik yang teratur berkaitan dengan penurunan risiko diabetes tipe 2, sementara perilaku sedentari yang tinggi berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan yang buruk.

Di tingkat global, diabetes menjadi persoalan kesehatan yang semakin besar. WHO mencatat jumlah orang yang hidup dengan diabetes meningkat dari sekitar 200 juta pada 1990 menjadi 830 juta pada 2022. Untuk diabetes tipe 2, sejumlah faktor dapat dimodifikasi, antara lain menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, rutin melakukan aktivitas fisik dan menghindari tembakau. Deteksi dini melalui pemeriksaan gula darah juga penting karena diabetes tipe 2 dapat berkembang dengan gejala ringan selama bertahun-tahun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....