Akar Pepaya Disebut Berkhasiat, Ini Faktanya

  • 30 Agt 2026 12:20 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Akar pepaya selama ini lebih jarang dimanfaatkan dibandingkan buah dan daunnya. Namun, sebuah informasi visual yang beredar menyebut akar pepaya memiliki sejumlah manfaat kesehatan, mulai dari membantu melancarkan pencernaan, meredakan peradangan, menjaga saluran kemih, mengurangi nyeri sendi, mendukung kesehatan hati, membantu mengatasi cacingan hingga menjaga daya tahan tubuh.

Akar pepaya juga disebut dapat diolah menjadi minuman rebusan. Caranya, satu genggam akar pepaya yang telah dicuci bersih direbus menggunakan tiga gelas air hingga tersisa sekitar satu gelas. Air rebusan kemudian disaring, dibiarkan hangat dan diminum secukupnya.

Secara ilmiah, tanaman pepaya atau Carica papaya L. memang telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Kajian ilmiah menunjukkan berbagai bagian tanaman, termasuk buah, daun, biji, batang dan akar, memiliki kandungan senyawa bioaktif dan telah diteliti untuk berbagai aktivitas biologis. Namun, para peneliti juga menekankan bahwa hasil penelitian laboratorium maupun hewan belum otomatis membuktikan khasiat yang sama pada manusia.

Khusus akar pepaya, penelitian memang masih jauh lebih terbatas dibandingkan bagian tanaman lainnya. Salah satu penelitian pada hewan menguji ekstrak air akar Carica papaya pada tikus yang mengalami paparan arsenik dan menemukan potensi perlindungan terhadap sejumlah perubahan biokimia dan genotoksik. Temuan tersebut menarik untuk penelitian lebih lanjut, tetapi belum dapat dijadikan bukti bahwa rebusan akar pepaya mampu mengobati penyakit tertentu pada manusia.

Sejumlah klaim dalam informasi tersebut juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Misalnya, kemampuan mengatasi cacingan, menjaga kesehatan hati, saluran kemih atau mengurangi nyeri sendi belum memiliki bukti klinis manusia yang cukup kuat untuk dapat disebut sebagai terapi. Kajian terbaru mengenai C. papaya secara umum memang menemukan potensi anti-inflamasi dan aktivitas biologis lainnya, tetapi peneliti menyatakan masih diperlukan penelitian mengenai efektivitas, keamanan dan uji klinis sebelum digunakan sebagai terapi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga mengingatkan bahwa pengalaman penggunaan secara turun-temurun merupakan modal awal, tetapi klaim khasiat obat bahan alam perlu didukung pembuktian yang sesuai. Untuk produk obat bahan alam, tingkat pembuktiannya dapat mencakup bukti empiris, uji praklinik hingga uji klinik, tergantung kategorinya. BPOM bahkan mengatur pedoman klaim agar informasi mengenai khasiat tidak bersifat objektif, tidak lengkap atau menyesatkan.

Karena itu, rebusan akar pepaya sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti obat atau pengobatan dokter. Terlebih lagi, belum ada standar dosis rebusan rumahan seperti “satu genggam akar dengan tiga gelas air” yang dapat dianggap sebagai dosis medis baku. Masyarakat yang memiliki penyakit tertentu, sedang mengonsumsi obat, hamil atau menyusui sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan ramuan herbal secara rutin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....