Studi Ungkap Rempah Ini Berpotensi Redakan Kecemasan
- 28 Agt 2026 19:56 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Studi menemukan basil berpotensi membantu meredakan kecemasan pada pasien depresi mayor.
- Ekstrak basil diuji bersama sertralin selama empat minggu, bukan menggantikan antidepresan.
- Peneliti masih membutuhkan uji klinis lebih besar sebelum basil dapat direkomendasikan.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Sebuah studi menemukan rempah populer berpotensi membantu meredakan kecemasan pada pasien depresi mayor. Rempah itu adalah basil, yang diuji sebagai pendamping obat antidepresan sertralin.
Studi tersebut terbit dalam jurnal Brain and Behavior pada 14 November 2025. Penelitian melibatkan 60 orang dewasa dengan depresi mayor dan kecemasan.
Seluruh peserta menerima sertralin dosis 50 hingga 100 miligram setiap hari selama empat minggu. Kelompok intervensi juga menerima sirup ekstrak Ocimum basilicum setiap malam.
Setiap dosis sirup mengandung 1.100 miligram ekstrak hidroalkoholik basil dalam lima mililiter. Kelompok pembanding menerima sirup plasebo dengan tampilan serupa.
Peneliti mengukur depresi menggunakan Beck Depression Inventory atau BDI. Tingkat kecemasan diperiksa memakai Hamilton Anxiety Rating Scale atau HAM-A.
Setelah empat minggu, kedua kelompok menunjukkan penurunan gejala depresi dan kecemasan. Namun, kelompok basil mencatat perbaikan lebih besar dibandingkan kelompok plasebo.
Skor depresi kelompok basil turun dari rata-rata 39,15 menjadi 21,04. Skor kecemasannya juga turun dari 33,19 menjadi 12,81.
| Baca juga: Keajaiban Rempah Dapur untuk Kesehatan |
Mengapa Basil Diduga Membantu Redakan Kecemasan?
“Sirup basil dapat mengurangi kecemasan pada pasien dengan gangguan depresi berat,” tulis para peneliti. Mereka tetap meminta penelitian dengan sampel lebih besar dan tindak lanjut lebih lama.
Sonya Angelone menyebut basil memiliki sejumlah senyawa tumbuhan antioksidan dan anti-inflamasi. Senyawa tersebut diduga berkaitan dengan mekanisme yang memengaruhi kesehatan otak.
“Peradangan kronis telah terbukti memengaruhi fungsi otak dan mungkin berkontribusi pada depresi pada beberapa orang,” katanya. Angelone juga menyebut basil mungkin memengaruhi GABA, neurotransmiter penghambat pada otak.
“Hal ini dapat mengurangi perasaan cemas dan menimbulkan perasaan tenang,” kata Angelone. Namun, penelitian tersebut tidak mengukur mekanisme GABA secara langsung pada peserta.
Basil Bukan Pengganti Pengobatan Depresi
Jessica Cording menyebut lavender telah banyak diteliti terkait pengurangan gejala kecemasan ringan. Ashwagandha dan lemon balm juga disebut memiliki potensi untuk diteliti lebih lanjut.
Saffron turut disebut sebagai rempah yang memiliki penelitian terkait kesehatan mental. Bukti berbagai pendekatan herbal tetap memiliki tingkat kepastian yang berbeda.
“Basil bisa menjadi bagian dari pola makan yang mendukung. Anda mendapatkan antioksidan dan rasa,” kata Cording. Namun, daun basil biasa belum terbukti memberikan efek seperti ekstrak penelitian.
Masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memakai suplemen herbal bersama obat. Suplemen tertentu dapat berinteraksi dengan obat dan memengaruhi efek pengobatan.
Pengobatan depresi sendiri umumnya melibatkan psikoterapi, obat, atau kombinasi keduanya sesuai kondisi pasien. Karena itu, temuan basil lebih tepat dipahami sebagai potensi terapi pendamping.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....