SIGAP-KIA Perkuat Kader Desa Deteksi Risiko Kehamilan
- 20 Agt 2026 22:23 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo — Upaya memperkuat peran kader kesehatan dalam mendeteksi dan mendampingi ibu hamil berisiko tinggi terus dilakukan di Desa Datahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.
Penguatan tersebut dilakukan melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Kader Kesehatan Desa dalam Deteksi Dini dan Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi Berbasis Website SIGAP-KIA, yang digelar di Aula Kantor Desa Datahu, Senin 3 Agustus 2026.
Kegiatan melibatkan Pemerintah Desa Datahu, tenaga kesehatan dari Puskesmas, kader kesehatan, masyarakat, tim Dosen Pembimbing Lapangan, serta mahasiswa KKN-Profesi Kesehatan.
Kegiatan diawali dengan materi deteksi dini kesehatan ibu hamil yang disampaikan Yuyun Indramaya, S.Tr.Keb. Materi mencakup pengukuran Lingkar Lengan Atas atau LILA, pengenalan tanda bahaya kehamilan, hingga kesiapsiagaan keluarga menghadapi kondisi darurat.
Para kader juga diberikan kesempatan mempraktikkan pengukuran LILA secara langsung agar mampu menerapkan keterampilan tersebut saat melakukan pendampingan di masyarakat.
Ketua Tim Dosen Pembimbing Lapangan, Tri Septian Maksum, S.KM., M.Kes., mengatakan kader memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan ibu hamil dan keluarganya.
“Kader merupakan salah satu pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, mereka perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk mengenali faktor risiko serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian,” ujarnya.
Menurut Tri Septian, penguatan kapasitas kader perlu didukung sistem informasi yang mudah digunakan. SIGAP-KIA atau Sistem Informasi Gerakan Pendampingan Kesehatan Ibu dan Anak dikembangkan sebagai aplikasi berbasis web untuk mendukung pendataan, skrining risiko kehamilan, edukasi, pemantauan, pengingat pemeriksaan antenatal, rujukan hingga pelaporan secara terintegrasi.
“Teknologi bukan untuk menggantikan peran kader maupun tenaga kesehatan, tetapi menjadi alat bantu agar proses pendampingan lebih terstruktur dan informasi yang diperoleh di lapangan dapat terdokumentasi dengan baik,” tambahnya.
Dosen Pembimbing Lapangan, Ayudhita Cahyani Daud, S.KM., M.Kes., menekankan deteksi dini harus diikuti dengan tindak lanjut.
“Ketika seorang ibu hamil ditemukan memiliki faktor risiko, prosesnya tidak boleh berhenti pada pencatatan. Harus ada edukasi, pemantauan, komunikasi dengan keluarga, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan,” jelasnya.
Sementara itu, Jesica Mulyadi, M.Keb., menilai keterlibatan keluarga juga penting dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi. Keluarga perlu mengetahui tanda bahaya kehamilan serta kapan harus segera mencari pertolongan medis.
Dari unsur mahasiswa, Koordinator Desa KKN-Profesi Kesehatan, Rafly Ramadhani Kurnia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu sekaligus berkontribusi langsung kepada masyarakat.
Ia berharap pendataan dan pemantauan ibu hamil melalui SIGAP-KIA dapat terus dilanjutkan oleh kader dan pemerintah desa setelah program KKN berakhir.
Dukungan juga disampaikan Kepala Desa Datahu, Saiful Hemu. Ia berharap peningkatan kapasitas kader dan pemanfaatan SIGAP-KIA dapat memastikan tidak ada ibu hamil yang luput dari pemantauan.
“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Kader adalah orang yang dekat dengan masyarakat sehingga perannya sangat penting. Kami berharap dengan peningkatan kapasitas kader dan adanya SIGAP-KIA, tidak ada ibu hamil yang luput dari pemantauan,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, SIGAP-KIA diharapkan tidak hanya menjadi aplikasi pendataan, tetapi menjadi bagian dari sistem pendampingan ibu dan anak berbasis data di tingkat desa.
Kolaborasi kader, keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah desa, perguruan tinggi dan mahasiswa KKN-Profesi Kesehatan diharapkan mampu memperkuat deteksi dini serta pendampingan ibu hamil berisiko secara lebih cepat, terarah dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....