Hipoglikemia, Kenali Gejala sejak Dini

  • 05 Agt 2026 13:53 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CI.ID, Gorontalo – Hipoglikemia atau gula darah rendah merupakan kondisi ketika kadar glukosa dalam darah turun hingga di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini paling sering dialami penyandang diabetes yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah, tetapi juga dapat terjadi pada orang tanpa diabetes akibat terlambat makan, aktivitas fisik berat, atau gangguan kesehatan tertentu. Jika tidak segera ditangani, hipoglikemia dapat berkembang menjadi kondisi gawat darurat yang memicu kejang, penurunan kesadaran, hingga koma.

Gejala hipoglikemia umumnya muncul secara tiba-tiba. Penderita dapat mengalami gemetar, berkeringat dingin, jantung berdebar, rasa lapar yang hebat, pusing, pandangan kabur, lemas, sulit berkonsentrasi, hingga kebingungan. Gejala tersebut terjadi karena tubuh melepaskan hormon adrenalin sebagai respons terhadap penurunan kadar gula darah. Pada kondisi yang lebih berat, otak kekurangan pasokan glukosa sehingga dapat menyebabkan perubahan perilaku, kejang, bahkan kehilangan kesadaran.

Hipoglikemia memiliki beragam penyebab. Pada penyandang diabetes, kondisi ini umumnya dipicu oleh dosis insulin atau obat diabetes yang berlebihan, terlambat makan, konsumsi karbohidrat yang tidak mencukupi, olahraga berat tanpa tambahan asupan energi, atau konsumsi alkohol terutama saat perut kosong. Selain itu, muntah, diare, demam, maupun gangguan fungsi hati dan ginjal juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia karena memengaruhi keseimbangan kadar glukosa dalam tubuh.

Para ahli merekomendasikan penanganan awal menggunakan aturan 15-15. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah di bawah 70 mg/dL dan penderita masih sadar serta mampu menelan, segera konsumsi sekitar 15 gram karbohidrat yang bekerja cepat, seperti setengah gelas jus buah, minuman manis non-diet, tiga hingga empat tablet glukosa, atau satu sendok makan madu. Setelah itu, tunggu selama 15 menit, lalu periksa kembali kadar gula darah. Jika masih di bawah 70 mg/dL, langkah tersebut perlu diulang hingga kadar gula kembali membaik. Setelah gula darah normal, dianjurkan mengonsumsi camilan atau makanan yang mengandung karbohidrat dan protein agar kadar gula tetap stabil.

Apabila penderita mengalami penurunan kesadaran, kejang, atau tidak mampu menelan, makanan dan minuman tidak boleh diberikan melalui mulut karena berisiko menyebabkan tersedak. Pada kondisi tersebut, penderita membutuhkan pertolongan medis segera dan, bila tersedia, pemberian glukagon sesuai anjuran tenaga kesehatan. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah kerusakan otak akibat kekurangan glukosa yang berkepanjangan.

Pencegahan hipoglikemia dapat dilakukan melalui pola hidup yang teratur. Penyandang diabetes dianjurkan makan sesuai jadwal, tidak melewatkan waktu makan, mengonsumsi obat atau insulin sesuai dosis yang diresepkan dokter, memantau kadar gula darah secara rutin, membawa tablet glukosa atau makanan ringan manis saat beraktivitas, serta menggunakan gelang atau kartu identitas medis sebagai informasi apabila terjadi keadaan darurat. Selain itu, konsultasi berkala dengan tenaga kesehatan diperlukan agar dosis pengobatan dapat disesuaikan dengan pola makan dan aktivitas sehari-hari.

Standar Perawatan Diabetes dari American Diabetes Association (ADA) juga menegaskan bahwa hipoglikemia merupakan salah satu hambatan terbesar dalam pengelolaan diabetes. Oleh karena itu, setiap episode hipoglikemia, terutama yang berulang, perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Penyesuaian terapi, edukasi mengenai tanda-tanda awal hipoglikemia, serta penggunaan teknologi seperti Continuous Glucose Monitoring (CGM) pada pasien tertentu dapat membantu menurunkan risiko kejadian berulang.

Masyarakat diimbau tidak menganggap remeh gejala gula darah rendah. Mengenali tanda-tanda awal, melakukan pemeriksaan kadar gula darah, serta memberikan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius. Edukasi mengenai hipoglikemia tidak hanya penting bagi penyandang diabetes, tetapi juga bagi keluarga dan orang di sekitar, sehingga pertolongan pertama dapat diberikan secara cepat dan tepat ketika kondisi darurat terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....